Berburu Malam

Sebetulnya malam itu nggak perlu diburu, karena ia selalu tiba. Yang biasa kita incar adalah cahaya dan cuaca.
Karena memfoto malam itu susah-susah gampang, terutama bila menggunakan kamera hape saja. Kalau goyang sedikit, entah karena grogi atau kedinginan, yang indah-indah bisa berubah jadi foto hantu.

Dengan persiapan dan perhitungan yang cukup, seperti memperhatikan masalah kecepatan, kepekaan cahaya, sampai tripod, kita bisa lebih puas dengan hasilnya. Modal lain? Nggak ada. Cuma….. sabar. HAHAHA.
Eh. Bukan berarti tidak bisa tanpa kamera seadanya, lho!
London dan angin dinginnya yang bertiup di sungai Thames brr..brr.. 

 

Faktor lain, badan harus kondisi prima, karena kalau tidak ada kemungkinan bisa gampang masuk angin. Seperti contoh foto di atas, kota London di malam hari. Ini aslinya sedikit goyang. Karena jangan kira saat mencari momen, angin kencangnya dari sungai Thames itu hangat dan romantis, yaaa. Pulang ke rumah pasti kepingin minta kerokan..

 

Eiffel Tower saat perayaan 14 Juli. Kaboom…kabooom….

Pasti tidak ada yang sadar kalau foto menara Eiffel yang kufoto diatas ini juga goyang parah. Karena memotret dengan menggunakan kamera poket minus tripod (atau malah hape? lupa). Selain hasil gambar jadi agak “bergetar”, pixel yang dihasilkan sangat kecil *jangan bilang siapa-siapa*. Salah satu cara mengakali semua, apalagi kalau tumpah ruah lautan manusia yang menghalangi pandangan, coba dibikin time lapse, kemudian diperkecil dan dibuat urutan.

Hasil dari momen sabar itu subur. Kampoeng Samperiun di kala malam.

Kalau kita mau serius menunggu sampai puncak malam hari nan syahdu dan sepi (minus orang lewat atau pura-pura mau lewat….). Silahkan menunggu dengan ceria bersama semua peronda malam! Wajib bermodal tripod, tentu saja. Masa sudah nunggunya sabar, hasilnya malah seperti dari balik kacamata minus? Tak relaa…tak relaaa. 

 Jadi saat melakukan pemotretan, kita harus menunggu semua orang – termasuk para pengantin yang sedang berbulan madu – sudah pada tidur. Pokoknya kesenyapan total!

 

Kenapa tidak mencoba foto dengan permainan cahaya, sambil menunggu bus lewat? Apalagi bila sedang ada di kota yang murah berbagi sinar-sinar terang benderang. Dipikir-pikir, listrik yang dihabiskan oleh kota besar kelas megapolitan dalam semalam bisa menghidupi berapa desa di Indonesia, ya? Andai Earth Hour itu tiap hari ada….
 Ya, malam memang momen romantis, magis dan banyak dinamika. Di belahan dunia manapun. Saat melihat keatas, kita akan selalu ada dibawah langit yang sama.

0 thoughts on “Berburu Malam

  1. Setuju.. memotret malam hari memang susah susah gampang. Terus Kalau cahayanya gak pas, muncul orps orps eh bener gak ya bahasanya begini?
    Dan katanya orps pada gambar itu hantu wwkwk saya sedikit ngakak, waktu di kasih tau sama temen soal orps ini.

    Hmmm iya juga ya.. harus bawa tolak angin kalau mau jepret2 malam malam mah 😀

  2. iya biasa disebutnya orbs backscatter. tapi itu bukan karena goyang…yang kumaksud foto hantu disini karena goyang atau memotret dengan shutter speed lambat tanpa tripod.
    betul bawa tolak angin dan bawa doa..haha kok jadi ngomongin hantu ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *