Clothing That I’m Deeply Attached To

Judul diatas kuambil dari salah satu tantangan yang pernah diikuti.  Karena menarik dan temanya cocok, ku re-post disini. Apa jawabannya?

Katun! Warna! Simpel!

Selalu itu kata-kata yang berkelebat di hadapan setelah membaca pertanyaan diatas.

Cotton Fabric Colour Cloth Textile Material

Apapun modelnya, yang penting yang kena kulit adalah berbahan katun. Alami.

Aku beberapa kali pakai baju berbahan campuran polyester sampai spandex, selain kurang nyaman juga berpotensi bikin masuk angin! *kecuali aksesori ya*.  Karena mereka, bahan-bahan sintetis itu, sepengetahuanku, tidak sepenuhnya menyerap keringat.  Jadi saat tiba-tiba kondisi kita  banjir peluh lalu kena angin kencang atau AC, harus diwaspadai. Apalagi ketika kita sedang berada di masa pergantian musim atau daya tahan tubuh sedang berkurang. Kondisi tubuh tersebut potensial benar membangkitkan virus yang lagi dormant atau mengundang masuk yang berkeliaran. Karena sebagian suhu tubuh lebih dingin dari yang lain.

Bahan wool? I’d love to. Sayangnya ini Indonesia. Gerah. Kipas-kipas. Selain itu, perawatan wool juga harus ekstra.

Kemudian aku juga menyukai bahan-bahan yang berwarna sesuai kepribadian. Selalu harus ada unsur warna walaupun cuma selempang. Sebab itu berpengaruh pada mood dan efek psikis.

Pernah mencoba pakai baju dengan warna ala-ala entrepreneur super sibuk, model Steve Jobs dan Coco Chanel. Kemana-mana simple black.

Sayangnya berakhir dengan ketidak-cocokan, secara psikis aku merasa tidak nyaman.  Apalagi kalau di sekitarku orang berbaju warna-warni, kemudian aku ber- dark-ria sendiri.  Feeling terasa gloomy. Tapi aku OK OK saja ya berpakaian hitam, asal sikonnya pas. Misal, ketika ada acara duka, resmi, atau memang pergi ke suatu tempat yang mayoritas harus ber-dress-code hitam.

Selanjutnya, untuk model aku berusaha sesimpel mungkin (selain memang lagi bergiat dalam hal menyederhanakan hidup).  Sebab yang demikian tidak merepotkan atau menyolok mata. Karena itu aku suka melirik padu padan dan desain dari beberapa desainer Barat yang rata-rata simpel, tidak gonjreng, tapi tetap ada warna. Contoh warna-warna beige. Selain yang untuk high fashion, ya.

Jika pakai baju gonjreng kuning seperti mba ini kalau lagi street photo, ku akan sulit menyamar!

Alasan lain, bila sedang memfoto , apalagi street photography, mengharuskan aku “membaur” bergerak luwes, tanpa perlu jadi target patokan mata. Iya, masa fotografer lebih hingar-bingar dari modelnya!

Kalau mau foto hewan, dan berbagai hal yang membutuhkan samaran, kita harus ngeblend dengan sekitar. Kalau bajunya ramai namanya merepotkan diri sendiri, juga obyeknya bakal mabur terus (semacam ketemu cheetah berbaju lebay). Hihihi.

Bagaimana dengan kamu?

Image : pixabay.com, wikimedia.com

5 thoughts on “Clothing That I’m Deeply Attached To

  1. Katun juga kain favoritku. Tp kalo warna, aku bakal ngerasa lbh pede kalo pake merah mba. Merah apa aja… Maroon kek, merah darah kek, merah gelap, apapun :D. Selalu suka warna berani gitu 😀

  2. Toss. Katun is a must. Sebenarnya aku sudah mulai suka pakai gamis. Sayangnya ukuranku jumbo & di toko itu kalau nggak bahannya yg sepintas kyk baju renang itu, ya bunga2 kayak korden. Kebayang dong, dah besar, kainnya meling & bunga2. Padahal aku suka yg simple banget, warna hitam, abu2, krem & biru tua. Aku baru berhasil bikin 1 gamis, enak dipakai tapi ancur bagian lehernya. Outfit sehari-hariku sekarang celana kain dan atasan model simple.

  3. Aku suka bahan katun! Emang adem sih. Sama yang motifnya bunga-bunga. :)))

    Kebanyakan baju aku pun colorful sih. Tapi ada juga yang monokrom.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *