Jalan Fotografi

 Kadang timbul pertanyaan. Baik kepada diri sendiri atau orang lain :  Kenapa suka fotografi?  Jawaban dari fotografer yang pakar, sampai penggembira suka-suka (ini, sih, diriku kali haha) bervariasi.

Ada yang memiliki jawaban sangat dalam seperti bagaimana fotografi adalah seni, seni melukis cahaya, bisa memahami filosofi kehidupan dan mempelajari  manusia darinya. Tapi  ada juga  yang jawabannya simpel dan pragmatis: ingin dapat duit dari fotografi.

Jawaban manapun tidak salah, karena semua berasal dari kepala dan pengalaman hidup berbeda-beda.

Struktur salah satu gedung di Jalan Sudirman

Aku juga punya jawaban yang pragmatis dan filosofis. Tepatnya : sudah menyiapkan jawaban, yang ketika dikeluarkan, pilihannya akan tergantung aku sedang bicara pada siapa, tipe filosof atau pragmatis whihihi…..

Pragmatis : fotografi bisa membuatku bergerak, bergaul, kena matahari, demi kesehatan jiwa raga. Walaupun kalau dituruti mencari perkakasnya bisa nggak sehat bagi kantong. lol (tapi itu pinter-pinternya masing-masing menahan diri saja, lho) Kemudian bisa sebagai bahan gambar untuk mendampingi tulisan-tulisanku juga. Karena selain fotografi, aku juga tidak bisa lepas dari dunia tulis-menulis. Sekali kayuh dua pulau terlampaui, kata mereka.

Filosofis : dari balik lensa aku belajar melihat lebih banyak kebesaran Tuhan. Anugerah. Fotografer itu, menurutku, hanya seorang saksi yang jeli mengambil  momennya saja dengan segenap ilmu yang dipunya. Yang benar-benar hebat, ya, tetap saja yang menciptakan obyek tersebut hehehe.

Cahaya khas sunset di sebuah pantai

Tapi adakalanya aku tidak mengambil apa-apa bila ingin larut dan benar-benar hadir dalam sebuah momen. Karena kesannya dikasih anugerah, kok malah aku sibuk sendiri untuk menangkapnya buat dibawa pulang. Lol. Padahal justru nilainya bukan disitu.

Alasan pragmatisku kurang “pragmatis”. Tidak ada unsur balik modal, cari kerja, atau dapat uang. Simpel saja sih, ya. Karena aku lebih setuju dengan pendapat bahwa belajar sesuatu, tentang apapun, yakinkan murni karena ilmunya, supaya kelak bermanfaat entah untuk pribadi atau orang lain. Begitu saja dulu. Simpel. Kalau niat sudah jelas, rejeki yang berkah datang dengan sendirinya, tidak selalu dalam bentuk uang. Sukses dan banyak uang tapi kemudian kehilangan banyak hal, hidup berantakan, depresi atau ingin bunuh diri (jadi ingat kasus terkenal seorang fotografer kondang), nah itu dimana bagian berkahnya?

Harus diakui juga, bahwa pada praktek banyak godaan sisi glamour yang ditawarkan oleh salah satu peminatan fotografi. Itu kurasakan ketika berhadapan dengan foto-foto yang berhubungan dengan seni, di-setting yang melibatkan manusia. Terlalu kuat dorongan rasa bangga yang menghanyutkan dari apa yang dihasilkan, baik sebagai konsep ataupun hasil karya. And that’s too much to handle for me.  Kurang sreg, seperti ada sesuatu – yang menurutku – tidak pada tempatnya. Ketika berburu foto untuk melihat hal-hal yang sifatnya natural, rasanya lebih alami.  Adem.

Persiapan trolling saat  memancing di laut

Sepertinya jiwa lebih senang dengan hal-hal yang mengalir apa adanya, layaknya dalam suatu perburuan.  Itu sebab nature photography menarik hati. Begitu juga landscape, architecture, dan human interest photography.  Sebagai catatan yang kumaksud tipe human interest yang tidak di-“setting”, ya.  Karena aku pernah merasakan mengambil foto human interest versi di-“setting” -kan, yaitu dengan talent, properti dan sebagainya.  Hasilnya memang pasti jauh lebih bagus. Tapi rasanya tetap berbeda, ya, dengan candid.

Tentu saja aku menyediakan tempat dalam ilmu fotografi yang membutuhkan “settingan”. Semacam food, product, interior photographyI love taking still life pictures. Bukan berarti tidak bisa foto potrait atau fesyen. Bisa, bila diasah semua hal akan mampu kinclong  But we always have roads that we may not taken. Masalah pilihan saja dan apa yang menurut kita jalan terbaik.

Dalam perjalanan, memang kita tidak bisa terlalu ideal dan kaku : harus yang sesuai minat saja.  Apalagi kalau pilihan kita bukanlah sesuatu yang mainstream atau diminati benar di tempat kita berada. Ketika harus memfoto sesuatu yang di luar pilihanku tadi, niatnya kebanyakan untuk bereksperimen dan berlatih, misalnya tentang cahaya. Bedanya, aku tidak share hasilnya ke publik, selain kepada sesama rekan dan, tentu saja, obyek foto. Demi mendapat masukan dalam hal teknis, juga karena obyek foto berhak lihat atau dapat hasil kerjasama dengan fotografer,


Bingung mencari kemana fotografimu menuju? Jalani dan jalani saja dulu. Tanyakan  kenapa suka fotografi serta tujuannya. Memang banyak yang merasa itu tidak perlu karena ini bukan sesuatu yang bisa dideskripsikan.  Sepele dan tidak penting. Tapi manusia butuh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mendasar. Sehingga ketika datang hantaman kenyataan dan masa sulit, bisa selalu menengok kembali ke titik dimana dahulu dia mulai. Dengan niat yang bagaimana.

Masih pusing? Pegangan! :)) Coba baca cara menemukan gaya fotografimu.

Kesimpulan, masih terus belajar ilmu ini, mungkin bisa sampai seumur hidup! >_<

Seperti seumur hidup mencari makna kenapa kita ada.

Dan menyaksikan.

——

Jadi apa jalan fotografimu?

Follow my blog with Bloglovin

0 thoughts on “Jalan Fotografi

  1. Aku paling rajin potret2 kebunku aja Fi cuma kelas amatir, sangking rajinnya winter juga potret2 hasilnya lensa jadi ada bintik hitamnya, trus sok jago bongkar sendiri eh ga bisa pasang lagi haha parah yaa 😀 .

  2. Haha salut deh mba bisa memelihara terus mengabadikan. Sudah pernah coba membuat time lapse pertumbuhan tanamannya dari biji hingga besar? Wah ada turorial membersihkan dark spotnya di youtube..wah lalu gimana nasib kameranya

  3. Saya juga suka fotografi mbak. Akhir2 ini emang lagi suka belajar motret kuliner. Nggak tau ya, tantangannya beda.
    Tentu saya tetap suka alam, paling suka sih kalau bisa motret dari sudut pandang yang beda gitu

  4. Saya suka panorama pantai yg beradu dengan sunset atau sunrise.

    Ttg human interest, menurut saya ttp kece badai yg tanpa settingan, artinya kudu pintar 'paparazzi' deh

  5. Suka liat photo bangunan itu mbak..apik bener…juara deh..tastemu bagus ya mbak di Landscape…
    Aku lebih suka portrait sih…kurang suka pake lens yg wide..sukanya yg prime dan ada efek bokehnya gitu…

  6. Slama ini motretnya makanan, krn aku suka review kuliner. Tp ya itu deh mas, msh amat sangat pemula juga hasilnya :D. Prnh niat mau coba kursus, tp kok ya kerjaan kantor ga abis2 :D.

  7. Paling laku memang sunset sunrise mba Ririe…haha iya ada fotografer human interest yg sampai bajunya hitam-hitam..agak kayak paparazzi? nggak tau juga ya…lol

  8. Huaa mas?? *langsung pakai parfum* lol. Ya nggak usah kursus juga bisa belajar kok mba Fanny buka-buka saja forum fotografi kayak fotografer.net

  9. Tenkyu mba Dew….fotonya mba juga juara…natural banget…kualitas gambarnya meningkat ya kalau pakai prim lenses…haha iya kl potrait wide nggak kepakai, kecuali foto keluarga dan jumlah keluarganya spt seRT,,,

  10. Sama, mba Elisabeth, aku juga suka foto-foto yang maknanya dalem banget, biasanya banyak di jurnalistik atau street photography..sangat ekspresif…

  11. Fotonya bagus banget mbak, memang foto kuliner butuh spesialisasi pengambilan sudut yang tepat supaya hasilnya memuaskan.
    terkadang dengan cukup melihat gambar konsumen terbawa untuk ingin mencicipinya, krn dari gambar aja udah terlihat enak apalagi kalau bisa mencicipi … wkwkkw
    Salam Kenal

  12. banyak cara mba prima, misal membuat wajah obyek tidak terlalu jelas, atau ketika foto kita bergaul dulu dengan mereka, jadi mereka tidak keberatan, juga bisa setelah foto langsung minta ijin, kalau benar2 bagus, terutama yang sedang atraksi di jalan, umumnya tidak keberatan difoto bahkan mencarinya. kalau setelah diupload diprotes ya harus legowo kita turunkan, intinya kita terbuka saja, karena foto human interest juga mengajarkan kita membuka diri kepada orang….

  13. Hihi suka banget pembahasannya kak, aku juga anaknya blom bisa sefilosofis pakar yang kalo ditanya kenapanya suka motret adalah disangkut pautin dengan seni. Palingan aku jawabannya karena suka banget ngeliat visual yang kadang di beberapa gerakan per second dari objek bergerak ada sesuatu yang wow gitu, walo aslinya ya biasa aja, tapi begitu diarahkan bidikan bisa jadi gambar yang penuh cerita. Kalo ga untuk objek benda mati, ya karena keliatan kece aja biat dijepret, atau malahan dijadiin background foto kita sekalian hihihi
    Salam kenal ya

  14. senang ketemu sesama penyuka fotografi, iya, aku juga belum sefilosofis mereka kok, hehehe… untuk sampai ke level itu memang harus banyak berlatih. salam kenal juga mba gustyanita ..

  15. Hehehehe tulisannya asiik … Tapi aku rada bingung sih

    Temenku yang suka fotografi sih bilang, kalau dunia fotografi itu ada tahap tahapannya.
    Tahap awal mau ngefoto apa aja tanpa memandang kategori seperti diatas, pokok asal foto buat nemu dia feel nya suka foto kayak gimana
    Tahap selanjutnya kalau gak salah mulai tahap nyoba nyoba kamera

    Tahap selanjutnya lagi lupa apa namanya

    Tapi in the end, fotografer ujung ujungnya yang penting nangkep momen.

    Karena ketika momen itu ada di dalam gambar, tanpa bercerita pun nanti gambar bisa bercerita.

    Ngobrol sama orang yang suka fotografi itu kadang seru, tapi kadang bikin bingung juga.
    Hahahaha

  16. Hi mba Laili, setiap org beda2 pengalamannya, saranku seperti di tulisan atas, dijalani saja terus, awalnya so pasti kita coba2 dulu, dong. Tapi kalau ada yang langsung tahu mana yang dia tidak mau, lebih bagus! Nggak susah pilih kamera atau lensa yg mendukung tujuan hahaha. Masalah efisiensi saja, sih. Nah, bingungnya dimana ya?

  17. iya, knp aku suka foto ya… aku suka baperan, nengok ke belakaaaang mlulu… Suka inget dulu nih jalanan kosong skrg rame… jd awalnya buat dokumentasi… 🙂 Sama selfie ya…itu penyakit dr kecil :)))) *suka deh sm foto2nya , apalagi yg sunset*

  18. Thanks mba Ria. Karl Lagerfield (desainer dari Chanel) bilang, “What I like about photographs is that they capture a moment that’s gone forever, impossible to reproduce.” Dokumentasi itu penting bgt.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *