Kuasa Atas Tombol Shutter

Baru-baru ini heboh sebuah kejadian seseorang siswa dikeroyok oleh siswa lain di sebuah Mall. Saat peristiwa itu terjadi ada yang merekamnya. Bila si perekam bukan bagian dari kelompok itu, alias hanya saksi, kita  tentu berharap yang merekam harusnya menolong. Menyaksikan tanpa berbuat apa-apa sudah termasuk bagian dari perbuatan bully.

 

Tapi tanpa ada rekaman itu, mungkin publik tidak akan mendapat berita tersebut, dan bisa jadi anak itu mengalami kekerasan di tempat lain yang tidak terdeteksi.Di sisi lain, bila dari awal tindakan kekerasan itu bisa dicegah, dan semua anak baik korban maupun pelaku bisa direhabilitasi psikologis, masa depan banyak anak akan terselamatkan.

Nah, ini akan selalu menjadi polemik dan perdebatan. Dimana batasan kita? Dalam fotografi (jurnalistik) mungkin ini adalah sebuah cerita klasik. Yang akan aku bahas kali ini lebih banyak hubungannya dengan fotografi yang berhubungan dengan manusia, bagi kita yang memiliki kebebasan lebih..

Mungkin ada diantara kita yang sudah pernah baca kasus fotografer Kevin Carter? Dia jurnalis foto yang memenangkan penghargaan Pulitzer atas foto-fotonya yang menggambarkan keadaan di Afrika Selatan. Karya yang paling terkenal adalah “The Vulture and The Little Girl.” Akhir hidup Carter sendiri cukup tragis. Dia bunuh diri di usia 33 tahun, meninggalkan berbagai spekulasi atas penyebab kematiannya.

“The Vulture and The Little Girl” karya Kevin Carter diambil dari Wikipedia

Aku tidak ingin terlalu panjang membahas kisah beliau. Toh, kisah selengkapnya bisa anda baca sendiri di berbagai sumber. Yang aku pahami disini,  fotografi adalah kegiatan yang sangat bersifat individualis, membutuhkan kesendirian sesaat (atau lama) yang intens, dan, bagi beberapa orang, terasa sangat senyap.

Kenapa aku mengatakannya demikian? Karena begitu kita mulai mengintip di view finder (atau versi lain yang lebih lebar), akan ada perasaan “terpisah” dari obyek. Kita hadir, tapi juga tidak hadir. Kira-kira demikian. Hm, kira-kira bisa paham maksudku?

Seperti kasus Carter dengan si gadis kecil kelaparan itu. Tidak sedikit yang mengkritik apa yang telah dia lakukan. Dianggap tidak berperikemanusiaan. Harusnya dia bantu gadis kecil itu, bukan malah memfoto. Padahal banyak alasan yang menyebabkan dia tidak bisa berbuat demikian.

Apakah kita benar-benar bebas dari gambar-gambar yang menghantui pikiran?

Yang mungkin kurang dipahami pemirsa disini adalah perspektif dari seorang fotografer. Saat membidik dan menekan tombol shutter, dia sesungguhnya sudah “tidak hadir” disitu. Being an invisible witness. Jadi sebuah entitas yang jatahnya hanya mengabadikan kemauan “sang sutradara”,  membawa kesenangan, kebanggaan, sumringah, dilema atau rasa bersalah (kalau ada) yang menyertainya kemudian. Tidak ada seorangpun yang benar-benar tahu. Ini sifatnya sangatlah pribadi.

Contoh paling mudah adalah saat akan berhubungan dengan model yang ingin diarahkan sesuai konsep atau image kita. Dari apa yang kupahami selama ini, seorang fotografer perlu menganggap model itu sebagai salah satu tools dalam menyempurnakan karyanya. Ia hadir bukan lagi sebagai individu yang utuh. Mungkin sama seperti kuas, kanvas, cat. Karena kalau ego model tetap ada, kita tengah membuat sebuah foto profil tentang si model! Konsep akan sulit diwujudkan bila fotografernya sudah kalah mental duluan,  kurang bossy, sehingga tidak mampu menekankan kehadiran diri mereka sendiri secara “lebih”.

Ini juga terjadi saat kita mengambil gambar dengan genre seperti Carter. Walaupun aku yakin, pasti ada yang sudah terbiasa, sehingga mampu memisahkan diri dan tidak merasakan empati apapun setelah mengabadikan. Akan semakin banyak juga jumlahnya di jaman dimana kita berlomba-lomba mengeksploitasi gambar. Walaupun demikian, kesendirian intens dan individualitas itu akan selalu hadir, sesuatu yang membedakan kita satu sama lain. Memangnya pernah dengar ada kasus fotografer yang berebut menekan tombol shutter release satu buah kamera, ya? Lol.

Bagi yang memiliki kebebasan berkarya, ada yang kemudian secara otomatis menjadi defensif dengan membuat “batasan”. Bisa karena hati nurani, logika, agama, dan etika dalam masyarakat. Dari hal-hal kecil sampai besar. Misalnya, menghindari memfoto model dengan gaya seksi tanpa baju, walaupun atas nama seni. Menolak tawaran memfoto menggunakan bahan bedak yang ditaburkan kepada model dengan alasan tidak ingin membahayakan kesehatan seseorang. Menyimpan kamera saat berhadapan dengan orang yang sedang sakit, orang kesusahan, dan sebagainya.

Tidak semua orang perlu tahu dan paham alasan kita. Disini kita berkuasa. We have control over our own shutter release. Bila ada yang sampai mengolok-olok karena merasa dalam memfoto tidak perlu ada batasan, menurutku ia masih belum paham sepenuhnya tentang prinsip kuasa atas tombol shutter. Bahkan mungkin juga pada kuasa atas apa yang mata kita pilih untuk lihat!

Gambar apa saja yang kita pilih untuk ditangkap lensa?
Berbeda dengan benda bernama kamera, begitu gambar-gambar sudah masuk ke dalam otak, dia akan membentuk semacam perpustakaan visual di benak manusia. Bisa menyenangkan, membuat ketagihan luar biasa, atau menyiksa batin tanpa kenal ampun. Sialnya, mereka tidak bisa di delete secara instan.

Sebagai contoh, kalau kita buka youtube dan menyaksikan gambar-gambar super sadis, umumnya orang yang empatinya tinggi pasti kepingin muntah. Bila ada pemicu, suatu saat kita akan ingat. Itu baru gambar ekstrim, belum yang memabukkan dan membuai-buai. Malah jadinya kepingin koleksi kali ya hahaha… Siap-siap saja kerja otak terganggu.

Dan itu terjadi pada seorang Kevin Carter. Pada akhirnya dia tidak pernah bisa sepenuhnya memisahkan diri dari segala obyek yang ia saksikan sepanjang perjalanan karirnya. Kasus serupa banyak terjadi pada tentara serta para saksi hidup kekejaman perang, yang sangat membutuhkan rehabilitasi.

Barangkali tidak seorangpun dari kita yang benar-benar imun. Jika mata diibaratkan sebuah kamera, otak adalah memory card yang demikian kompleks, memiliki berbagai layer, bekerja dengan cara yang masih sangat misterius. Membutuhkan terapi bertahun-tahun – bak mengupas habis sebuah bawang – hanya demi menghapus sebuah imaji yang mampu merusak hidup seorang manusia.  Apalagi bila itu sesuatu yang diterima berulang-ulang dari hari ke hari.

Apa batasan kita?

Hal demikian membuatku merenung. Lalu? Apa batasanku? Melihat foto-foto  apa saja yang selama ini tidak keberatan kutunjukkan kepada publik, sepertinya aku tahu. Hal-hal di luar itu, bila kupaksa melakukan, akan sia-sia. Habis memamerkannya saja tidak terbayang, buat apa aku memfoto mereka juga ‘kan ya hahaha…..Ya sudah dijauhin aja. Gampang, bukan. Gitu aja kok, repot…..

Individualitas selain mampu memproteksi, bisa menghasilkan kompensasi – dalam bentuk spesialisasi. Daripada sibuk menentukan apa yang tidak disukai, akan lebih enak fokus pada yang benar-benar disukai. Kira-kira begitu.  Seperti fotografer yang terkenal fokus pada gambar “orang dan binatang”, “arsitektur”, “kendaraan”, dsb. Terbatas dong? Menurutku, seniman yang paling kreatif adalah mereka yang bisa menghasilkan karya bagus dalam keterbatasan. There is a pure beauty in it.

—-

Jadi apa kamu juga memiliki batasan dalam mengabadikan sesuatu hal?


PS : Bagi yang tertarik mengetahui kejadian sesungguhnya dibalik foto “The Vulture and The Little Girl” silahkan membaca artikel “Kisah Sebuah Foto dan Rumornya”. Special thanks untuk Bpk. Arbain Rambey atas informasinya.

0 thoughts on “Kuasa Atas Tombol Shutter

  1. Halo, Mbak, salam kenal. Cakep banget postingannya. Aku suka moto, tapi sebatas foto kamera HP. Itu juga paling moto moment menyenangkan sehari2 dan benda-benda kecil di sekitar, hehe… Kalo moto orang, yang pasti aku hindari hal-hal yang sifatnya privasi. Kalo pas moto sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat, aku cari tau juga apakah bagian yang kufoto bersifat tabu bila dilihat banyak orang (publish).

  2. Hai, tulisannya bagus.
    Kalau saya, kadang urung memotret kalau kira-kira objeknya (manusia) terlihat kurang senang. Apalagi kalau sudah minta izin tapi dia tolak, sudah pasti nggak jadi motret. Tapi kalau untuk jurnalistik, memang kayaknya membingungkan ya batasnya..

    Salam kenal 🙂

  3. Fotografer yg berlomba-lomba menekan satu tombol memang tidak ada, tapi sudah sering melihat pertarungan sengit mendapatkan posisi memoto paling strategis di event-event. Kalau perlu dia tak sekedar hadir, tapi tokoh utamanya. Jadi di foto itu muka dia aja fokusnya, acara tsb, meskipun kenegaraan, jadi latar belakangnya. Btw tadi pagi nggak sengaja nyentuh tombol play 2 kakak adik yg terjun dr apartemen. Walaupun videonya sedikit blur, tapi suara berdebumnya masih terngiang smp skrg. Alhamdulillah tidak bekerja atau berkarya di bidang yg berhubungan dg hal2 spt itu krn aku pasti stress spt Carter.

  4. Halo mbak. Aku suka baca postingan mbak deh. Memilukan banget ya bunuh dirinya si fotografer terkenal itu, Kevin Carter. Itu yang dishoot burung dan anak kecil iiihhh saking kelaparannya nya menakutkan lihat fotonya.

  5. "there is a pure beauty in it." mantap penutup tulisannya. jadi mikir dari pertanyaan terakhir di atas? Sama seperti mba, aku juga akan lebih mengabadikan sesuatu sesuai dengan apa yang aku sukai. fokus dengan apa yang buat saya senang, untung2 orang yang lihat hasil jepret kita juga ikut senang. Terus kepikiran untuk melakukan hal yang sama dengan carter? kayaknya enggak. ya itu gak siap batin.

  6. Topik yang menarik banget. Karena saya demennya motret bawah laut, jadi batasannya lebih ke kenyamanan hewan liar yang jadi subyek foto. Fotografi bawah laut terutama mengandalkan flash yang sinarnya kadang sangat terang dan ini diyakini bisa menyebabkab kebutaan bagi hewan laut tertentu. Saya sendiri gak tahu pastinya hewan laut mana yang bisa buta gara-gara flash, tapi yang pasti hewan kecil kayak seahorse gitu jelas terlihat mereka gak nyaman setelah difoto dengan flash. Batasan saya ya dengan lower beam dan gak klik lebih dari 5x. Selain itu kalau udah ada banyak fotografer lain yang pake flash, ya saya gak maksa motret binatang tersebut.
    Di satu sisi, foto-foto perang, humanisme atau wildlife kayak di bawah laut ini, penting untuk ditampilkan sebagai jembatan informasi bagi kalangan manusia yang tidak berada di lokasi dan melihat sendiri situasi kejadian. Saya kira, gimanapun situasinya, foto-foto seperti "The Vulture and The Girl" sudah seharusnya dipublikasikan dan saya salut dengan Kevin Carter telah berani menjadi jurnalis di daerah berbahaya dan melaporkan kondisi tersebut apa adanya. Tanpa foto-foto seperti ini, kita mungkin gak pernah tahu kondisi sebenarnya yang terjadi di negara lain yang mungkin membutuhkan bantuan dan solidaritas kita sebagai sesama manusia.

  7. Aku pernah baca kalau konon Carter waktu itu sedang terikat kerja dan dilarang berinteraksi, jadi dia nggak bisa turun tangan langsung buat bantu, yang bisa dia lakukan cuma nekan tombol shutter kamera :')
    Aah, suka banget tulisannya 🙂
    yang pasti kita bisa memilih sisi apa saja yang bisa kita abadikan dengan kamera kita ya 🙂

  8. Wah, bakat jadi jurnalis foto, yang cari posisi strategis itu. Tapi knp obyeknya beralih bukan yang di depan mata ya? Hahaha…. Iya, memang kerja seperti itu benar2 hrs org yg terpilih..

  9. Terima kasih. Betul, mba Zulaeha. Memang aturannya seperti itu ketika mereka diterjukan untuk meliput. Khawatir penularan penyakit. Sudah aku tambahkan link artikel true storynya di atas.Ya, begitulah sisi manapun yang dipilih kita yang menciptaan batasan..

  10. Terima kasih mbak Indah. Nah, itu juga menarik banget informasinya, karena masih awam tentang fotografi bawah laut. Sama seperti memfoto beberapa hewan versi makro mungkin ya? Ada hewan yang memang tidak boleh kena cahaya lampu terus karena nanti masuk kondisi stress (bisa mogok makan). Tapi mungkin beda dengan fotografi laut hewan darat masih bisa pakai available light ya. Betul, menurutku Carter sendiri adalah seorang hero di bidangnya melihat kontribusi foto2nya yang menggambarkan suasana disana. Sangat disayangkan beliau tidak mendapatkan perhatian dan treatment yang memadai untuk memulihkan kondisi kejiwaannya…

  11. ada bangettt apalagi dalam hal memotret itu pasti ada nuansanya tersendiri, baik itu foto sendiri selfie atau memotret sesuatu hal yang ingin di foto,

  12. Hai mba salam kenal.
    Aku lagi mulai belajar foto nih mba. Belajar doto pake camera yang sedikit lbh canggih. Biasanya cuma pake camera pocket sama hp aja. Kayanya bakal sering2 mampir kesini nih..

  13. Kalau kerja di jurnalistik dan medianya "sopan" sih mending. Tapi semisal kerja di koran kuning, semakin berdarah semakin peluang dimuat mgkin ya :D. Kredo bad news is a good news itu mmg dilema

  14. Saya pernah selfie kemudian diupload ke socmed. Ternyata reaksi teman-teman kebanyakan menganggap saya sedang memiliki masalah. Bahkan pada bertanya, "ada masalah apa?" Wajah saya terlihat sedih. Padahal kejadian sesungguhnya tidaklah demikian. Saya bahkan tidak sedang sedih sama sekali. Dari situ saya mulai berpikir kalau dari 1 foto saja bisa menjadi 1000 bahasan. Saya jadi semakin berhati-hati ketika melakukan foto apalagi sampai menguploadnya. Meskipun mungkin kadang suka ada ego, kita yang punya kamera maka kita juga punya kuasa atas tombol shutter. Tapi semoga tidak seperti itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *