“Melampaui Fotografi” : Melampaui Imajinasi Manusia

Walau menyebut diri sebagai photography enthusiast,  dengan malu hati kuakui, bisa dihitung jari menghadiri galeri dan pameran-pameran fotografi. Alasannya dari sibuk ini-itu hingga hal remeh-temeh seperti enggan menghadapi macet lalu lintas. Padahal dahulu aku termasuk rajin, lho, menyambangi galeri dan museum  terutama ketika ada pameran.  Ah, those were the days…

Ketika pertama kali mendapat berita tentang pameran tunggal berjudul “Melampaui Fotografi” dari Suherry Arno, yang dimulai 24 Oktober hingga 5 November 2017, aku tertarik.

Namun dasar pengaruh instan the power of kepepet, sistem kebut semalam, baru jelang hari terakhir aku baru tiba di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia.  Sebuah perjuangan melintasi separuh kota!  Itu juga setelah berulang kali diingatkan oleh salah seorang mentor, agar kami tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini, sebuah pameran fotografi hitam putih yang bisa jadi hanya ada 20 tahun sekali.

Setiba disana, mayoritas pengunjung yang hadir sudah bisa ditebak….para fotografer atau setidaknya mereka yang membawa kamera.  Di halaman sudah ada yang foto-foto dengan kamera DSLR bersama kelompok. Di bagian dalam gedung menyemut pengunjung-pengunjung berkalungkan kamera berbagai merk.

Saat kami tiba, kebetulan Suherry Arno sedang ada sesi tanya jawab.  Beliau menjelasan berbagai hal teknis kepada pengunjung. Sayang, aku melewatkan sesi di hari Sabtu kemarin, karena saat itu beliau sendiri yang memandu pengunjung dalam menjelaskan sejarah karya-karyanya.

Judul pameran tunggal ini bahasa Inggrisnya : “Photography and Beyond”. Awalnya, jujur saja aku tidak berharap terlalu banyak. Tapi apa yang aku lihat saat itu jauh “melampaui” ekspektasi.

Yang kami saksikan  betul-betul membuat terhanyut dalam imajinasi dunia hitam putih hasil tangkapan manusia. Saking menariknya gambar-gambar dan penjelasan, sampai brosur pameran ini sendiri sudah habis oleh pengunjung. Untung, sebelum tiba disana aku sudah dapat bocoran brosur versi PDFnya. Hehehe.

Sebagai penyuka fotografi tapi masih dalam tahap amatir aku menyebut segala karya yang ada di galeri ini sebagai presentasi, cara melihat sebuah pemandangan dari sisi yang luar biasa unik. Jadi kita tentu terbiasa, ya, melihat berbagai foto bagus dari beragam point of view.

Pertanyaannya, bagaimana mengeluarkan segala kemampuan teknis, memanfaatkan kejelian mata, dan imajinasi, agar pemandangan di hadapan bisa berubah menjadi lebih luar biasa? Bagaimana membuat sebuah foto menjadi extraordinary?

Suherry Arno menjawab semua itu dengan memfokuskan diri pada fotografi hitam putih, menitik-beratkan pada proses teknis pembuatannya. Perpaduan tehnik fotografi, digabungkan dengan ilmu mencetak foto level tinggi, akhirnya menghasilkan efek yang bisa dibilang…magis.

Di ruang tengah Galeri A dipertunjukkan sebuah video yang menjelaskan bagaimana proses beliau menghasilkan sebuah karya di ruang cetak. Ruang cetaknya canggih banget, lho. Bukan selalu analog seperti yang dibayang-bayangkan bila membicarakan fotografi hitam putih melainkan juga digital.

Untuk mendapatkan ilmu yang terbaik Suherry Arno tidak ragu-ragu menimba ilmu pada pakar di Indonesia sampai Amerika Serikat, seperti Kumara Prasetia, Kayus Mulya, Bruce Barnbaum, Howard Bond, John Sexton, dll.

Bukan hanya foto-foto indah yang dipamerkan di Galeri A ini. Ditampilkan juga berbagai peralatan “perang” yang digunakan oleh Suherry Arno. Perlengkapan perang bukan sembarang kamera melainkan berbagai macam kamera format besar, hampir sebesar mesin cuci. Sesuatu yang mungkin hanya ada di dalam mimpi-mimpi liar orang yang benar-benar mendalami fotografi.

Disini aku salut pada konsistensi beliau pada bidang ini. Bisa dilihat dari segala memorabilia yang dihadirkan, sebuah dokumentasi sedari muda hingga saat ini, menunjukkan sejarah perjuangan mencari ilmu dan praktek sang maestro.

Di hari terakhir ini, pengunjung selalu mengalir berdatangan, namun tidak terlampau padat, sehingga kami bisa benar-benar menikmati suasana yang dihadirkan di dalam galeri. Terutama saat menikmati satu-demi satu foto dengan penampilan luar biasa menarik. Detail-demi detail, gradasi, tekstur, yang ditampilkan seolah mengajak berpikir,

“Apakah gambar ini betul-betul nyata?”

“Bila saya hadir di tempat itu, apakah benar-benar bisa melihat pemandangan yang sama PERSIS?”

Karena aku seakan melihat dunia yang dihadirkan melalui sebuah “mikroskop” raksasa, menyaksikan pemandangan yang penuh tekstur dan detail.

Realitas terbalik juga banyak diperlihatkan disini, salah satunya pada foto  “Iceland” (atas). Dunia yang seharusnya putih, sarat dengan bayangan hitam mencekam yang dihasilkan dari landscape, bukit, karang, dan laut!

Para pengunjung yang hadir banyak yang mengabadikan foto-foto di galeri dengan menggunakan kamera dan handphone. Mungkin mereka sama tidak percayanya denganku ya? “Is it for real?”

Bagi yang tertarik dengan CV Suherry Arno, ini adalah biografi singkat yang diambil dari brosur ::

 

Dan aku keluar dengan membawa banyak kekaguman, terhuyung-huyung, seperti Alice yang baru keluar dari dunia surrealis Wonderland. Bersyukur sudah melihat semua.

Apakah pameran ini membuat photography enthusiast yang baru lucu-lucunya seperti diriku menjadi pucat dan mundur teratur melihat karya-karya level maestro? Tidak juga. Karena memang diatas langit akan selalu ada langit. Selalu demikian untuk seterusnya dalam imajinasi manusia yang tidak berbatas.

Untuk melampaui itu seseorang tidak bisa hanya mengandalkan kamera yang paling canggih kala ini,  tanpa menghabiskan sebagian besar waktu untuk terjun ke lapangan, belajar dan menghayati tanpa henti.  Inilah hasil paling nyata dari totalitas dan ketekunan yang telah ditunjukkan oleh seorang Suherry Arno.

Pernah menghadiri pameran fotografi di kotamu? Apa kesan yang didapat?

 

 

 

6 thoughts on ““Melampaui Fotografi” : Melampaui Imajinasi Manusia

  1. foto itu bisa bicara ya lewat gambar dan itu harus diambil oleh fotografer yang handal , yang tahu kapan menjepret, angelnya dlll

  2. CV nya unik. Biasanya di CV, orang menuliskan pernah menang apa atau mengajar dimana, agar pengunjung percaya. Tapi beliau menuliskan tempat2 belajar saja. Kadang kita lupa, tempat kita belajar juga menunjukkan kualitas karya kita. Itu juga menunjukkan pribadi beliau yg tak pernah berhenti belajar & humble.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *