Orang Asing Ke Indonesia

Celine (bukan nama sebenarnya) adalah mahasiswi biasa di sebuah kota di Perancis. Dia mengambil spesialisasi budaya internasional di Universitas setempat, mungkin sembari diam-diam menyimpan kegalauan yang dia tidak mengerti, kenapa juga dulu dia mengambil jurusan itu??!

Sebagai seorang gadis muda, perawakannya juga biasa (untuk ukuran orang sana), rambut pirang acak-acakan, selera berpakaian standar mahasiswi umum, wajah polos tanpa polesan,kebandelan standar. Rutinitasnya pun nggak ada yang istimewa, berangkat ke tempat kuliah pagi-pagi, mendengarkan  dosen di sebuah ruang perkuliahan model amphitheater, sesekali ke perpustakaan, dan kalau ada waktu pergi bergaul dengan teman-teman, entah di klub malam atau sekedar ngopi-ngopi. Ngobrol sepuasnya sembari mengeluhkan banyak hal dalam hidup.

Untuk mengumpulkan uang saku, Celine pagi-pagi buta sudah datang ke sebuah cafe, mengatur meja kursi, bersih-bersih, merapikan tempatnya dengan upah beberapa Euro. Semacam pelayan di restoran-restoran. Lumayan bila terkumpul duitnya. Bisa dipakai untuk libur musim dingin.

Perancis terkenal akan Universitas-universitas yang mempelajari negara-negara asing. Bahkan ada sebuah Universitas terkenal menyelenggarakan program khusus untuk mempelajari masyarakatnya. Konon didirikan oleh Napoleon Bonaparte sendiri dengan tujuan untuk mempelajari karakteristik manusia di negeri-negeri yang akan dijajah. Sebagai pengetahuan, Indonesia pernah masuk dalam koloni Perancis. Sebelum direbut kembali oleh Belanda.

Menjelang akhir semester, kebanyakan Universitas mengharuskan mahasiswanya “terjun langsung ke lapangan”, mahasiswa yang beruntung bisa memilih tempat di daerah yang mereka mau, atau yang “kurang” beruntung suka nggak suka ditunjuk untuk pergi ke daerah yang sudah ditentukan.

Celine termasuk yang kurang beruntung itu. Dia mendapat daerah di Jawa, Indonesia!

Lemaslah dia. Dimana itu?

Oh, merde….aku ingin ke tempat yang aku lebih kenal, lebih metropolis…

Mengeluh. Dan menjelang detik-detik keberangkatan, dia bertanya-tanya. Orang-orang di Jawa itu seperti apa?? Memang dia pernah melihat beberapa mahasiswa Indonesia di kota ini. Mereka (tampak) beradab. Namun bukankah dia akan diterjunkan di daerah, bukan kota?

Mau protes, Universitas pastilah nggak bergeming. Jadi the show must go on.

Celine pun berangkat dengan gontai ke negeri yang belum bisa dia bayangkan itu. Mungkin sepanjang 12 jam perjalanan di pesawat dia mulai merindukan rutinitas di kampung halaman, walaupun itu hal-hal kecil seperti saat jadi pelayan di restoran.

Bulan demi bulan berlalu. Tidak ada yang terlalu memikirkan bagaimana kondisi Celine di negara asing nan buas Apalagi teman orang Indonesianya di Universitas.  #lha, iyalah, apa sih yang musti dikhawatirin gitu lho!.

Sampai suatu hari salah seorang temanku (teman sesama pelayannya Celine),  iseng membuka-buka internet. Kaget melihat upload foto-foto dari gadis itu. Aku pun disuruh melihat.

Celine tampak sumringah sekali. Dia berfoto di sebuah tempat (tampaknya di daerah Jawa), dengan sawah yang luas. Ia memakai kaca mata hitam, kaus lengan pendek, celana jins, rambutnya diikat ke belakang, berjalan di tengah-tengah sawah.

Dan gadis itu diikuti oleh….sekumpulan penduduk setempat!

Mereka mengaraknya seperti ondel-ondel, dengan tatapan penuh kekaguman. Puncak dari daya tarik foto-foto itu adalah sebuah foto dimana…dia  dimintai tanda tangan!

Tawa kami pun berhamburan. Seperti di drama-drama telenovela. Dari pelayan jadi bintang film!

Yah. Paling tidak, hal yang positif, gadis itu aman disana. Kalau yang kulihat, dia tampak bahagia sekali. Sangat sangat bahagia.  Barangkali orang asing seperti dia jarang merasa dihargai sampai sedemikian rupa, hingga dia tiba di negara eksotik ini.

Peserta pawai musim panas. Di negara sana yang namanya kedatangan musim panas itu sampai dirayakan dalam berbagai acara pawai

Aku tersenyum setiap kali mengingat kenangan itu. Sembari bertanya-tanya kepada rumput yang bergoyang, Kenapa kita bisa jatuh ke taraf pemujaan yang sedemikian itu dengan orang asing (kaukasian khususnya), ya? Bila tidak ada rasa pemujaan pun terkadang yang hadir malah kebencian atau prasangka yang seringkali begitu ekstrim. Padahal sama-sama manusia juga. Bisa nyenengin. Bisa nyebelin. Bisa jahat. Bisa baik. Bisa meloya. Bisa terpuruk. Dan yang kadang kita lupa : mereka juga punya perasaan.

Aku pernah mengalaminya sendiri, saat berjalan ditempat umum di Indonesia. Aku berpas-pasan dengan kenalan pria Eropa yang tampilannya cukup menyolok, tinggi besar. Kami bersopan-santun sejenak (masih sangat standar ketimuran).  Nah, di sepanjang jalan ramai, aku mulai merasa ditatap dari kiri kanan dengan pandangan yang tidak biasa. Mereka menatap ke wajah si pria, lalu balik lagi ke aku. Ketika balik ke aku itulah para penatap (wanita) melihat lamaaa …dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. EH?EH? Apa maksudnya..apa maksudnyaaa? *keringat dingin besar-besar pun pelan-pelan mulai membanjiri kuduk*

Apalagi bila orang asing itu tampangnya nggak jelek, seringkali heboh. Ketika bersepeda ramai-ramai di jalan raya Indonesia dengan teman kaukasian yang bekerja di Indonesia, suka jadi tidak nyaman dan risi karena dipelototin bahkan sempat diikutin. Kami memutuskan lain kali kalau membawa si teman akan kami samarkan saja,  kalau perlu dipakaikan seragam komunitas sepeda onthel sekalian pura-pura jadi Irlandernya. Wkwk. Just kidding…

                                  Target lock on?

Betapa mereka tampak seperti satu-satunya cake yang terhidang diatas meja ketika semua orang terlambat datang ke sebuah pesta.

Memang segala bentuk pemujaan kepada orang asing nggak merugikan. Tapi bagaimana, ya.  Awal-awal memang menyenangkan, lama kelamaan hal itu akan mengubah seseorang juga, dari yang awalnya biasa-biasa saja.  Mereka tidak akan sama lagi. Kalau di cerita sejarah hal-hal seperti ini menimbulkan jurang perbedaan antara Belanda totok dan Belanda VOC. Dimana Belanda totok terkenal memandang sebelah mata Belanda VOC yang berbeda etos kerja dan sikap.

—-

Aku tidak mendengar kabar lagi tentang Celine. Apakah pengalaman di Indonesia akan mengubah dia?

Moga-moga saja menginspirasi,  saat dia kembali ke kehidupannya, yang sebenarnya demikian simpel dan bersahaja. Sebelum kuliah, berbersih-bersih meja cafe di pagi-pagi buta, dalam kondisi kursi-kursi masih sedikit membeku. Demi mengumpulkan euro demi euro, agar bisa berlibur di tempat dimana sinar matahari bersinar lebih hangat.  Saat itu mungkin ia akan mengingat, nun jauh di negeri seberang ada sekumpulan orang-orang ramah yang menyukainya, menyambut hangat, menganggapnya istimewa.

Karena bagi mereka, ia sudah tampak luar biasa.

Punya cerita yang sama? Apa pendapatmu tentang orang asing ke Indonesia?

Foto-foto dari dokumentasi pribadi

14 thoughts on “Orang Asing Ke Indonesia

  1. Pendapat saya ada sebagian org asing yang hidupnya lebih baik di Indonesia, karena mungkin dr segala kebutuhan hidup lebih murah. Tapi terlepas dari itu saya suka kalau misalnya melihat org asing kyk dr Jepang dll yang ulet2 itu, bikin makin semangat utk kerja lbh keras lg 😀

  2. wah karena mereka tampak keren kali ya, banyak yang terlalu muja2. Dan oanga sing suak dengan kita karena keramahannya, mungkin ini di desa ya, kalau di kota sih kadang sudah banyak yang kurang ramah

  3. Orang asing seperti orang jepang yang menurutku ulet sekali buat bekerja dan sangat menghargai orang lain. Tapi banyak juga orang Indonesia yang memiliki karakter pekerja keras dan bersahaja. Yang baik kita tiru, yang jelek harus dibuang

  4. Kalau wna ke Indonesia secara jadi artis karena di bbrp kota tertentu kan memang jarang lihat bule, tp coba klo di Bali karena sdh banyak ya jadi biasa aja 😀 . Semoga Celine ketemu jodoh di Jawa heh 😉 .

    1. Haha iya…di Bali tumpah ruah. Moga-moga ya..Ada juga kenalan cewe bule lain yg akhirnya malah jd kuliah di Univ terkemuka di Jawa.

  5. 2 tahun lalu keponakan kami (cewek) menikah dengan orang Perancis. Hyaaah langsung hebohlah keluarga, smp kemudian kakak kami memberikan petuah bahwa kami harus biasa2 saja seperti ketika kami menerima keluarga2 besan yg lain. Kami nggak boleh “ndeso” wkwkwkwk. Kebetulan keluarga besar suaminya datang semua di hari pernikahan. Ya mereka harus menginap di kampung kakakku, nggak ada keistimewaan. Acaranya juga biasa, ngundang orang kampung dll. Alhamdulillah keluarga besan humble & ramah banget. Kami (keluarga & tetangga) bisa jaim, nggak heboh. Yg norak malah teman2 keponakan kami. Pada caper sama bule2 itu, mungkin krn masih muda ya, ngarep dpt kenalan bule. Heheheee…. Skrg keponakan kami sudah tinggal di Perancis & kuliah S2 disana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *