Salah Pilih Film

Aku jarang sekali tidak puas  saat keluar dari bioskop.  Dan seluruh keluarga selalu melirik kearahku kalau mau pilih film. Kalau kataku OK  yang ini bagus. JALAN! Mereka akan gedubrukan lari menuju film yang dimaksud. Mirip sepasukan prajurit yang habis diberi arahan oleh Jendral.

EHM EHM. Jadi begitu terpercayanya diriku *kibas rambut*

Sebetulnya nggak sekeren itu, sih. HAHAHA. Habis rumusnya gampang. Sebelum nonton aku biasa melakukan analisa dulu, baca review, lihat Ropert & Egbert, Rotten Tomatoes dkk.

Dalam hidupku nggak ada dalam kamus kalimat ini,

Feeling gue film ini bagus, deh.”

Walaupun bintangnya sekaliber Leo Di Caprio sekalipun! OK mereka memang menarik perhatian. Tapi bintang besar juga pernah kepeleset, kok, terlibat dalam film dengan skenario buruk.

Sayangnya, untuk beberapa jenis film, memang tidak ada penilaiannya di situs-situs tersebut. Dan rata-rata reviewnya yang beredar di dunia maya lebih kearah promosi ketimbang kritisi. Entahlah. Mungkin karena banyak yang nggak tega.

Jadi ceritanya aku mengincar film A atau B. Namun karena jamnya nggak bersahabat, akhirnya keputusan kilat ambil film C. Kebetulan aku pernah baca buku darimana film itu diadaptasi. Tapi memang buku yang pertama saja. Sekuel-sekuelnya skip.Jadi aku BERASUMSI, ceritanya baguslah.

Aku lupa kata-kata bijak ini. Never assume! Research! Research! Research!

Masuk ke bioskop dan film mulai. Di awal-awal, everything is OK. Adegan-adegannya mengalir mulus, tapi tiba-tiba…BAKEKOK…muncul akting yang demikian parah sampai aku keselek pop corn.

Saat itulah aku mulai was-was. Keluar keringet dingin. Firasat jelek, nih.Jangan-jangan  salah pilih film?

Ini mungkin agak hiperbola. Tapi dalam kondisi seperti itu, segalanya berkelanjutan. Setiap adegan demi adegan kelihatan ajaib. Plot holenya tampak berlomba muncul dimana-mana. Semakin dicari, semakin banyak kesalahan. Setiap percakapan mulai bikin ngantuk.

Puncaknya…adegan-adegan yang dalam hidupmu benar-benar bukan favorit semakin sering muncul. Seperti teror psikis. Digambarkannya kurang lebih seperti ini:  kamu sukanya romans dan nggak suka dikagetin, ternyata yang muncul adegan horror terus.

Atau sebaliknya.

Dan ternyata duduk di bioskop dengan menatap film yang  tidak disuka itu sangat menyiksa, ya. Pengin cabut tapi sayang sudah bayar ‘kan.

Aku yang selama ini jarang salah pilih film,  baru merasakan ciri-cirinya :

  1. Gelisah. Seperti duduk diatas tungku.
  2. Berpikir terus,”Kapan selesainya…kapan selesainya film ini!”.
  3. Melirik hape, jam, untuk mengalihkan diri dari memandang layar.
  4. Mengais-ngais berbagai unsur dalam film yang bisa dinikmati demi menyelamatkan penilaianmu pada film itu. Misal, aktor atau aktrisnya.
  5. Mulai mendengar suara-suara tidak jelas di bioskop sebelah. AH, BETAPA STUDIO TETANGGA TAMPAK LEBIH HIJAU…
  6. Berandai-andai punya time machine, jika saja tadi ambil film A atau B…
  7. Mengkonversi jumlah uang yang dibayar buat beli tiket dengan jumlah mangkok bakso di warung sebelah.
  8. Hanya bagi mereka yang beruntung : mata tiba-tiba berat dan tertidur pulas hingga film selesai.

Aku jadi membayangkan orang yang masih fase penjajakan dan terpaksa nonton film yang  genrenya nggak disuka demi gebetan. OH, I FEEL YOU, FREN.  I FEEL YOUUUU.

Ini kapan selesainya…

Ketika film selesai, AKHIRNYA AKHIRNYA SUDAH SELESAI…*nangis-nangis*

Semua keluar dan mengusahakan berbagai cara agar dunia kembali normal.  Menipu menghibur diri dengan berbagai hikmah.

Gimana menurutmu filmnya?

Yah, filmnya bagus, kok dibagian ininya. Hm, pemainnya cakep. Not bad. Not bad.

Oh gitu. Lain kali mau nonton film yang sama lagi nggak?

ENGGAK.

Lesson learned :

Kalau kepepet harus pilih film dan kamu sudah didepan kasir, nggak apa-apa paksain riset dulu sebelum milih.  Walaupun dengan resiko harus ngantri lagi. Kalau hasil nihil, nggak nemu review, yang beredar di dunia maya cuma trailer dan artikel promo, pikir-pikir dulu kali, yaaa…

Kamu pernah ngalamin ada di kondisi  demikian?

21 thoughts on “Salah Pilih Film

  1. wkwkwk belum pernah aku salah film, nonton selalu cari2 tau dulu XD

    tp pernah sekali ketiduran, karena kelelahan dihari2 sebelumnya wkwk jd miss scene penting.. 🙁

  2. Saya mah nggak pernah ke bioskop seumur-umur. Biasanya nyari bajakan seminggu setwlah launching di warnet mah banyak. Tinggal copas. Klo bagus masuk koleksi. Klo jelek tinggal delete aja ha ha ha……

    1. Harusnya begitu sih…disana lebih mahal tiket bioskop ya 😀 Bagus nggak bioskopnya? Aku pernah ketemu orang yg sudah keliling dunia, katanya sih nonton film di bioskop yang paling bagus cuma di Indonesia. Penasaran juga.

  3. Nggak pernah kalo film bioskop. Kalo beli dvd film sering salah pilih. Utk yg bioskop biasanya search dan lihat trailernya dulu

    1. haha jangan ah, ini sifatnya kan subyektif mba fey…belum tentu reaksi orang sama…aku lebih suka menyebut nama kalau filmnya bagus…tapi kalau mau coba rasanya sekali-kali nonton deh film dengan genre yang nggak disuka

  4. Hahaha…aku jadi penasaran film apa, kak. Aku kadang juga baca review sebelum nonton, tapi review juga gak bisa dijadiin pegangan karena beragam pendapat. Jadinya kalo udah pengen nonton suatu film yaudah nonton aja. Tapi sejauh ini seingatku belum pernah sih salah nonton film hehe.

    1. hehe iya sih gak semua bisa dijadiin pegangan, subyektif..tapi kalau dari pengamat-pengamat film yg sudah punya nama, umumnya, sih bagus, mba icha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *