The Female (Male) Brain

“Sudah, perempuan urus anak saja!” Mungkin ini tagline yang pas untuk tema ini.

Tentu saja perkataan itu sudah tidak relevan lagi sekarang. Namun masih banyak beredar polemik mengenai bagaimana mendidik anak di jaman modern ini, terutama bagi anak perempuan.  Merasa sudah terbuka kesempatan yang sama, segala aspek kehidupan perlu disamakan.

Namun benarkah walaupun sudah dikondisikan sama seadil-adilnya, tidak akan ada perbedaan?

Pernah diadakan penelitian tentang mainan, dimana seorang anak perempuan diberi mainan truk-trukan. Dan dibiarkan main tanpa intervensi dan manual dari orang dewasa bagaimana memainkannya. Yang terjadi adalah truk-trukan tersebut dijadikan anak!

Nah. Mengapa semua berkembang jadi sedemikian kompleks? Bukankah seharusnya alami saja ya…

Untuk menemukan jawabannya, salah satu buku yang kurekomendasikan adalah The Female Brain dan The Male Brain (anggap saja satu seri ya).

Buku karangan neuropsikolog Louann Brizendine ini membahas perbedaan otak perempuan dan laki-laki. Perbedaan yang sebagian besar dipicu oleh perbedaan hormon yang bereaksi pada otak.

Kenapa buku ini kurekomendasikan? Karena disini kita akan lebih memahami perbedaan cara berkomunikasi antara laki-laki dan perempuan, juga perilaku, yang mana akan berdampak pada kelancaran komunikasi entah itu dalam pekerjaan, keseharian, atau keluarga.

Dan banyak cerita lucu yang sering terjadi karena gagal paham masalah miskom ini.

Sebagai contoh nih, seorang psikiater terkenal yang kukenal pernah bercerita bagaimana seorang ibu pernah tergopoh-gopoh memberi “laporan” kepadanya perkara miskom dia pada suami dan sekian anaknya – yang laki-laki semua.

Kurang lebih ceritanya seperti ini,

“Saya harus minta maaf nih, sama suami saya dan anak-anak saya.”

“Kenapa, bu?

“Anak-anak ketika tidak menjawab saat saya panggil, saya siram air semua!”

DHIEGG..

Jadi dia baru belajar bahwa kadang perempuan harus menunggu laki-laki  memproses informasi dulu, terutama ketika awal-awal membuka percakapan. Kemudian laki-laki juga tidak butuh berbicara sebanyak perempuan.  Sayangnya, laki-laki juga jarang paham kenapa perempuan jauh lebih cepat merespon panggilan dan banyak bicara. Kelambatan dan minimnya respon laki-laki sering membuat perempuan mengalami kekesalan menumpuk selama bertahun-tahun (terutama karena kebanyakan dari kita perempuan suka jadi baper, ayo ngaku HAHAHA).

Moral of the story :  acceptance.

Lalu kenapa ada laki-laki dan perempuan yang bisa melakukan perilaku lintas gender? Misal, perempuan yang jago baca map atau laki-laki yang bisa “mendengarkan kata perempuan”. Yang terakhir ini adalah makna yang tersirat bukan tersurat.

Jawabannya memang bisa. Otak manusia kan memang bisa belajar.

Tapi….. dengan usaha dan latihan yang lebih lama dan lebih berat dibanding lawan jenisnya!

Misal, karena keadaan dimana dia harus mandiri, si perempuan “dipaksa” belajar membaca peta. Lalu bertahun-tahun dia melakukan itu hingga menjadi mahir.

Demikian juga yang laki-laki. Bila dia sudah paham, atau memang memiliki banyak saudara perempuan atau teman perempuan, tentunya akan lebih mengerti bagaimana cara “berusaha” lebih mendengarkan. Dengan usaha keras tentunya. Lol.

Hal diatas juga menjelaskan secara sederhana mengapa kegiatan yang dicontohkan, akan diikuti anak. Misal, anak laki-laki yang biasa ikut aktivitas ibunya misal ke salon, memilih baju, dsb akan terbiasa feminin juga. Demikian pula anak perempuan yang banyak dididik oleh ayahnya suka kegiatan maskulin bisa jadi tomboy.

Karena itulah kenangan pertama kali seorang anak tentang kegembiraan.

Akhirnya memang benar, bahwa anak terlahir seperti kertas putih. Pengulangan berulang kali dari orang tua dan lingkunganlah yang memberikan sentuhan warna dalam karakter.

Jadi mau diberikan kebiasaan main apa, terserah orang tuanya ya. Mau anak laki-laki tetap jadi anak laki-laki. Anak perempuan tetap menjadi perempuan. Atau menjadikan anak laki-laki feminin dan anak perempuan maskulin. The choice is all yours. Dengan resiko masing-masing.

Ketika Brizandinne menulis buku kedua The Male Brain, dia sempat ditertawakan lho. Karena dianggap buku tentang Male bakalan lebih tipis dari Female, bahkan mungkin seperti pamflet saja!

Karena faktanya, laki-laki sering dianggap sebagai template dasar dari seorang manusia. Sebagai contoh dalam bahasa Inggris “man” sering dipakai untuk mewakili humanity. Padahal tahu nggak bahwa template dasar otak manusia yg tidak berubah sejak lahir adalah otak perempuan? Lol

Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki bila dikerjakan oleh perempuan, maka si perempuan akan dianggap “hebat”. Nggak usah soal pekerjaan deh, tapi soal hobi misalnya. Perempuan yang hobi bela diri, menembak, terjun payung, balap mobil, intinya ke hobi maskulin akan mendapat sorot mata kekaguman lebih (terutama dari lawan jenis).

Bila sampai mendapat piala….

Keren. Dia tidak kalah dengan laki-laki!

Hm. Berarti laki-laki adalah seperti tulisan dalam paragraf diatas : template sempurna dari manusia kah? Sebuah pencapaian tertinggi?

No. Lebih tepat sih, karena pengulangan dan usaha yang dilakukan perempuan untuk melakukan itu umumnya bisa berkali lipat dari laki-laki. Hehe..disitu, lho, hebatnya.

Kebalikannya, pekerjaan-pekerjaan dan hobi yang umum yang typically dikerjakan perempuan seringkali dipandang sebelah mata. Kita tentunya ingat di jaman nenek-nenek atau ortu kita ada semacam pandangan : perempuan di dapur saja, perempuan mengurus anak saja!

Sayangnya, ucapan itu umumnya diucapkan lebih ke nada merendahkan, ketimbang memahami kelebihan perempuan atau mengakui ketidakmampuan sendiri di area tersebut.

Perempuan memang secara alami dikaruniai insting, kewaspadaan, serta paham gesture yang tinggi, sehingga menjadi modal bisa mengasuh anak secara optimal tanpa perlu usaha ekstra dibanding laki-laki.  Pernah nggak ada kasus bapak yang diminta jaga anak tiba-tiba bayinya menggelinding dia melirik saja nggak? Itu karena penglihatan laki-laki seperti lensa tele, sementara perempuan seperti lensa wide (istilah fotografinya, lol). Bukan berarti soal  anak, laki-laki musti lepas tangan ya, justru wajib ikutan juga tapi dengan tugas dan sentuhan yang berbeda. Karena seringkali kegiatan yang membutuhkan otak perempuan bisa jadi amburadul bila laki-laki yang mengerjakannya, bila tanpa pelatihan dan pemahaman memadai.

Menurutku, yang masih perlu belajar banyak lagi soal ilmu ini, berbagai hal menyangkut emansipasi wanita, kesetaraan gender, selama ini terjadi bukan karena perempuan ingin melebihi laki-laki. Tapi itu ibarat kartu domino berjatuhan yang berasal dari pengalaman menyakitkan sepanjang sejarah manusia tentang (salah satunya) masalah merendahkan, kurangnya penghargaan, kekerasan, dan ketidakadilan terhadap perempuan. Dimana dunia jauh lebih menghargai laki-laki dan segala hal yang dikerjakan laki-laki.

Suatu saat bila banyak yang sudah hilang minat dengan “pekerjaan perempuan”, terjadi kekacauan dan ketidak-keseimbangan, dunia akan sadar bahwa apa yang ditakdirkan untuk kita laki-laki dan perempuan adalah sama berharga serta hebatnya.  Semua adalah modal yang diciptakan demi kelangsungan hidup umat manusia. Apalagi bila kedua gender bekerja sama sebagai satu tim, yaitu saat segala keinginan untuk “ingin menjadi  seperti…”  itu berhenti. Mungkin. Who knows?

Dari kedua buku ini, setidaknya aku jadi sedikit memahami (para ahli otak saja mengakui banyak yg belum mereka ketahui), semakin kagum pada penciptaan dan kerja otak. Bahwasanya manusia mampu menjadi apa saja- untuk kebaikan dirinya sendiri.  Terutama mulai belajar menghargai kita telah diciptakan sebagai apa. Belajar menerima perbedaan serta menghargai keunikan masing-masing gender.

Kesimpulannya sesederhana itu.

Pertanyaannya sekarang kan cuma kita mau berusaha atau tidak, terutama usaha yang lebih keras dari yang lain. Terkadang kan kitanya saja yang suka males, ya. Lol.

Apakah kamu pernah baca juga atau setidaknya mengetahui kasus serupa?

Follow my blog with Bloglovin

4 thoughts on “The Female (Male) Brain

  1. Terima kasih ilmunya. Mengingatkan saya akan perbedaan laki2 dan perempuan. Dulu juga pernah baca buku yang seperti itu dengan judul yang berbeda. Bermanfaat sekali ilmunya untuk belajar saling memahami antar pasangan

  2. Iya betul. Intinya dengan memahami perbedaan otak, juga harus lebih berusaha memahami pasangan. Saya setuju dengan opini bahwa emansipasi lahir berawal dari hilangnya penghargaan laki2 pada peran perempuan. Kalau seorang suami bisa menghargai peran istrinya di rumah (banyak konteks yang mencakup makna menghargai), istri akan dengan “senang hati” menjalankan perannya sesuai fitrah. Banyak kan kasus keluarga yang secara ekonomi sebenarnya dikategorikan sudah tinggi, tapi istri tetap lebih senang berperan di “luar”. Mungkin salah satu penyebabnya dia merasakan penghargaan dari “luar ” lebih besar daripada yang dirasakannya di “dalam” rumah. Merasakan orang2 di “luar” lebih membutuhkannya. Merasakan orang2 di “luar” lebih menyanjungnya. Well, saya bersyukur jadi perempuan. Jadi laki2 itu kayaknya lebih sulit. Di zaman sekarang laki2 dituntut untuk maskulin (tidak bersifat seperti perempuan, gemulai, cengeng, dll), tapi juga harus bisa lembut pada perempuan (istri dan anaknya), membantu pekerjaan rumah istrinya, bekerja, memahami kebaperan istrinya, ga marah2, dll. Dengan kondisi otak laki2 yang seperti itu, butuh usaha super ekstra untuk menjalankan peran laki2 di zaman sekarang.

    1. Suka sekali dengan pendapatnya, mba Sinta. Terima kasih sudah menjabarkan dengan lengkap. Haha iya jaman sekarang jadi laki-laki serba bingung. Mau jadi laki apa adanya, tapi ingin dirubah agar berpikir seperti perempuan. Tapi perempuan juga demikian, tuntutan semakin berat, harus jadi supermom, bagus di pekerjaan agar dihargai, tapi sekaligus harus mengurus rumah dan keluarga. Ya, bagi beberapa orang itu adalah pilihan. Resiko hidup di we-culture.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *