Tiada Mata Tak Hilang Cahaya

Bagi seorang fotografer, dan kita semua yang suka memfoto, cahaya adalah hal yang paling penting. Karena tanpa itu tidak ada sesuatupun yang bisa ditangkap oleh kamera. Kita semua, tidak pernah membayangkan bagaimana hidup tanpa itu. Tetapi harus diakui, kadang suka terlalu berlebihan memanfaatkan momen, terutama saat “cahaya” tiba  dan obyek sedang bagus-bagusnya. Hingga sampai melupakan banyak hal lain.

Seorang kenalan fotografer bercerita dia pernah mendapat pengalaman yang membuka mata saat ikut  dalam sebuah event hunting street photography.  Dalam street photography,  obyek manusianya memang beragam, dari golongan atas, menengah, dan bawah.

Ketika salah seorang rekannya tengah memfoto golongan terakhir, ada ibu-ibu yang tiba-tiba menegur. Intinya ibu tersebut minta agar si fotografer mengasihani mereka yang sedang susah dan kekurangan, dan tidak menjadikan mereka, orang susah sebagai obyek dan pameran.

“Mereka susah tapi mereka juga punya harga diri. Rasa malu.”

Demikian kenang sang kenalan fotografer ini, menyimpulkan. Walaupun setelahnya kita memberi mereka uang, apakah semua hanya demi nama seni, sebuah sharing di sosmed, atau pameran-kah?

Di Inggris sudah pernah ramai kasus seperti ini yang kerap disebut sebagai stranger-shaming.  Kala itu menyangkut kumpulan foto dari seorang street-photographer bertemakan “perempuan yang sedang makan”. Sophie Wilkinson, seorang jurnalis, berhasil membuat facebook menghapus foto dirinya yang diambil dan di publish disana.

Hal ini membuatku berpikir. Kita tentu memfoto bukan untuk menunjukkan bahwa kita pandai memfoto atau menangkap momen.  Setiap orang punya tujuan dan batasan.

Baca : Kuasa Atas Tombol Shutter

Tapi apa artinya kita, yang notabene bukan jurnalis, tidak bisa memfoto sebuah realita kehidupan? Bukankah semua orang, lepas dari segala atribut yang mereka sandang, punya kelebihan dan kekurangan?

Bagaimana bila sebuah foto justru menunjukkan sisi humanis tapi sekaligus luar biasa dari seorang manusia? Dan dengan gambar kita memiliki tujuan untuk memberikan informasi. Jadi aku memberanikan diri memunculkannya dalam kisah ini.
Halaman Depan Taman Tuna Netra

Tempat yang pernah kukunjungi dalam sebuah acara ini adalah sebuah pondok milik Yayasan Raudlatul Makfufin.  Wadah bagi tuna netra muslim yang ingin menuntut ilmu dan melakukan kajian ke Islaman. Raudlatul Makfufin sendiri berarti “Taman Tuna Netra”. Beralamat di Jl. H. Jamat Gg. Rais No.10, Buaran, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310.

Mereka memiliki motto yang indah yaitu,  “Tiada Mata Tak Hilang Cahaya.”

R. Halim Soleh bin RH Ismail. Dokumentasi : Republika
Pendirian yayasan itu atas inisiatif almarhum R. Halim Soleh bin RH Ismail dan beberapa rekan tuna netra. Beliau sendiri, yang memiliki keterbatasan penglihatan, berusaha mengumpulkan buku-buku keagamaan dan Al-Qur’an dalam Huruf Braille. Selain itu juga ada kebutuhan penghuni dan memenuhi fasilitas penyandang tuna netra
Karena Al-Qurán seperti itu langka, timbul inisiatif mencetak sendiri dengan huruf Braille, meski harga ongkos produksi satu unitnya Rp. 1 juta. Dengan usaha berliku akhirnya berhasil menerima donasi 80 unit dari ESQ Peduli.
Alat Pencetak Huruf Braille
Proses pengerjaannya menuju kesana juga tidak mudah, karena tim harus melakukan input dan konversi kedalam komputer satu persatu untuk kemudian menghasilkan output huruf Braille. Para pekerja percetakan ada dari kalangan tuna netra. Harga mesin cetaknya sendiri juga cukup mahal. Tapi segala aral melintang itu tidak mematahkan semangat mereka. Seperti yang sering digambarkan tentang semangat almarhum Soleh :

“Konsen mendorong para tuna netra untuk tidak lupa diri dan merenungi nasib karena kekurangan fisik. Mendorong para murid untuk berhasil dalam pendidikan dan menjadi sarjana.” demikian kenangan tentang beliau yang dikutip dari Dialog Jumat -Republika.
Usaha keras menghasilkan buah yang manis. Hasil cetakan Al Qurán Huruf Braille dari tempat ini sudah menembus negara Turki dan Singapura.
Al-Qurán Huruf Braille
Berbeda dengan Al-Qurán biasa yang tentu jauh lebih tipis, satu cetakan Al Qur’an Huruf Braille dibutuhkan 30 jilid (satu juz satu buku). Karena kertasnya juga khusus, lebih tebal.

Walaupun disebut usaha, tapi pemberian Al Qurán ini kepada para tuna netra adalah cuma-cuma termasuk ongkos kirim. Karena harga 1 unit cukup mahal, sehingga mustahil dibebankan pada tuna netra yang membutuhkan. Biaya produksi ditutupi dari donasi dari berbagai sumber.

Membaca  Al-Qurán dan menulis dengan menggunakan alat kecil seperti yang digambar tengah
(klik untuk memperbesar)

Selain menjadi tempat percetakan Al-Qurán huruf Braille, yang kini cukup diakui dunia, Yayasan Raudlatul Makfufin juga memberikan pengajaran untuk penyandang tuna netra. Mulai dari menulis, program paket A dan B,  sampai belajar komputer “bicara”.

Belajar komputer berbicara (klik untuk memperbesar)

Kenapa disebut komputer “bicara”? Karena ini adalah komputer yang disediakan khusus, dengan aplikasi yang bisa menerjemahkan teks kedalam kata-kata sehingga bisa didengar. Demikian juga tombol-tombol perintah pada keyboard, disuarakan.

Pengajar dan murid-murid menjelaskan kepada pengunjung, apa saja yang dipelajari (klik untuk memperbesar)

Pekerja percetakan dan pengajar disana selalu bercerita dengan penuh semangat tentang pekerjaan mereka. Kami diberi semacam kartu petunjuk mengenai huruf braille.  Terlihat kesungguhan para pelajar dan santri tuna netra. Bagaimana Tuhan telah memberikan kelebihan bukan hanya pada indra peraba, melainkan juga pada dedikasi, semangat, dan  ketekunan luar biasa demi sesamanya. Sebuah pemandangan yang luar biasa.

Dan aku teringat pengalamanku selama ini saat melakukan fotografi di jalan, kemudian bertanya pada diriku sendiri. Tidakkah aku merasa malu dengan segala rasa kurang bersyukur yang sekilas pernah ada? Juga pada hilangnya rasa empati pada sesuatu, yang bagi orang lain, adalah seluruh realita kehidupannya.
Tiada Mata Tak Hilang Cahaya.

Saat ada mata, tapi kehilangan cahaya, adalah keadaan yang sebenarnya jauh lebih menyedihkan.

Setidaknya itu pelajaran yang didapat disini, sebagai seseorang yang suka mengagungkan kata cahaya dalam arti harfiah. Dan aku mulai mengerti, bagaimana sebuah gambar tentang seorang manusia seharusnya berbicara.

Cahaya itu….

Saat aku beranjak pergi, angin semilir lembut berhembus ke dalam pondok, yang dari luar seakan sepi, namun di dalamnya segala upaya terus mengalir. Di tempat itu, aku bisa merasakan kehangatan dan kedamaian pada sebuah usaha yang tiada akhir demi memuji kebesaran Tuhan.

Apakah kamu pernah merasakan bagaimana usaha luar biasa seorang manusia? Bagaimana caramu menangkap gambar mereka?


**Bila terjadi kesalahan dalam gambar, kata dan informasi, dengan segala kerendahan hati, semua adalah kesalahan penulis.

0 thoughts on “Tiada Mata Tak Hilang Cahaya

  1. iiihh, saya suka banget tulisanmu mbak. Itu..tuh yang street photography itu sejalan ama pemikiran saya. Kadang saya mikir apakah ketika saya memotret ada yang terganggu, iya sih niat jepretnya buat belajar, tapi kan gak semua orang mikir begitu. Adakalanya saya juga mesti minta izin buat motret, biar ada kelegaan. Saya tu suka banget mantengin foto2 dari fotografer ahli yg jepretan mereka bisa mengeluarkan sisi kemanusiaan hanya lewat gambar, bahkan tanpa caption panjang lebar yang menjelaskan

  2. Terharu banget aku baca artikel ini. Semoga makin banyak yg saling bantu. Tapi memang benar kata ibu itu. Kenyataannya, street photography paling sering menampilkan orang2 susah karena terlihat eksotis di kamera & pas utk tema humanisme. Tapi kita lupa kalau mereka juga punya perasaan, terutama rasa malu, yg mungkin tidak rela fotonya terpajang di galeri2 atau di majalah. Nggak ada orang yang mau hidup susah. Sebagian bisa ikhlas menerima, sebagian masih berjuang untuk keluar dari sana.

  3. terima kasih mba Lidha…iya, walau nggak untuk di publish sebetulnya privasi orang tetap bisa terganggu. Tapi di ruang publik bebas foto, jadi kembali ke diri kita masing2. Ah, ya itu butuh jam terbang tinggi..

  4. Terima kasih mak Lus…iya, moga-moga makin banyak yang slg bantu sesama spt mereka..betul, gampangnya sih kalau kita di posisi mereka rasanya bagaimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *