Ennichisai 2019 : Sebuah Kilas Balik

Mengenal kebudayaan bangsa lain rasanya sangat menyenangkan. Dari dulu saya menganggapnya  demikian.  Yaitu saat saya mulai tertarik dengan budaya Jepang.

Sebagai catatan, budaya asli Jepang itu aslinya bukan budaya sub-kultur, ya. Budaya sub kultur tercipta lebih baru,  populer di kalangan kaum muda. Umumnya dikenal lewat media masa serta hiburan masa kini seperti anime, manga, dsb.

Pengenalan dan Kilas Balik Pribadi…..

Saya ingat saat pertama kali menyaksikan Bon Odori, yaitu di awal abad 21. Saat itu penyelenggaraannya masih di area perhotelan di wilayah jalan Sudirman. Orang Indonesia yang hadir jumlahnya masih seimbang dengan orang Jepang. Suasana menyenangkan karena tidak terlampau padat.  Ramai tapi masih dalam batas membuat semua orang merasa sangat nyaman.

Bon Odori aslinya di Hanazono Shrine, Jepang.  Di awal-awal tahun 2000 suasananya seperti ini. (Gambar : commons.wikimedia.org)

Tapi semua berubah, seiring dengan semakin populernya budaya sub kultur. Perpaduan dengan hadirnya para pelaku baru,  akhirnya menampilkan “berbagai modifikasi modern” dalam pesta kebudayaan itu.  Bisa dilihat dari hadirnya  cosplayer, grup-grup band J-pop,  stand-stand yang berisikan produk kekinian Jepang, dsb.

Semakin laris manis penyelenggaraan tema kebudayaan Jepang di berbagai tempat, termasuk di universitas-universitas.

Orang Indonesia, yang haus akan hiburan, semakin memadati acara-acara sejenis. Perbandingan jumlahnya dengan orang Jepang pun semakin tidak terkejar. Hasilnya? Suasana sangat ramai, hiruk-pikuk, tumpah ruah lautan manusia, dan jauh dari keteraturan.  Wah ini, sih, lebih mirip pasar. Demikian pendapat saya setelah mengikuti beberapa event Jepang. Kalau tidak salah, yang terakhir saya ikuti adalah  Pameran Indo-Japan Expo di tahun 2008.

Sejak saat itu, saya memutuskan untuk menghindari acara-acara sejenis, walaupun gratis.  Minat saya bukan melulu kepada budaya sub kultur.  Alasan lain, saat mengikuti acara budaya, biasanya saya akan membawa keluarga.  Namun saya melihat  sendiri, cukup riskan bila membawa anak kecil, apalagi dibawah umur (dalam kerumunan massa tak terkendali apapun bisa terjadi-termasuk kecopetan). Dan lagi membayangkan berdesak-desakannya sudah bikin saya mager akut!  Lol.

Jadi kemarin ini pertama kalinya saya memberanikan diri icip-icip suasana Jejepangan kembali, di Ennichisai 2019.  Ennichisai ini sudah 10 tahun di selenggarakan di kawasan Blok M.

Berarti 10 tahun sudah saya mager melirik kesana, dong. Hahaha. Nah, tahun ini menurut penyelenggara adalah terakhir kali diadakan di Blok M. Hmm. Kenapa, ya?

Suasana di Lapangan

Saya sebetulnya hadir tanpa rencana. Hanya kebetulan saja sore itu ada acara tidak jauh dari lokasi. Jadi saya pikir, kenapa tidak ?

Saat melangkah menuju TKP, saya sudah menyiapkan mental mengadapi kerumunan massa. Dari arah Terminal menuju panggung yang posisinya bersebelahan,  para bintang acara mulai tampil, sehingga terjadilah kepadatan. Jalan kedepan saja sulit karena yang masuk dan yang keluar sama padatnya! Wuih.

Ini bagaimana ngeliat artisnya, wahai saudara-saudaraku, sesama suku orang pendek mungil

Walau padat merayap begitu, orang tetap saja mengalir datang di event Ennnichisai 2019 ini! Termasuk para cosplayer dan mereka yang sekedar datang karena kepo, atau cuma ingin moto-moto.

Tidak ada diskriminasi spot moto buat yang profesional dan amatir 

Saking padatnya, stand-stand di lokasi depan terminal, saya terpaksa numpang lewat saja. Tapi untungnya masih sempat mendokumentasikan beberapa pemandangan yang memang khas acara Jepang (masa kini). Salah satunya adalah para cosplayer.

Cosplayer…cosplayer sepanjang mata memandang..

Bicara soal cosplayer, biasanya sih, opini dari para orang tua, ah ini kenapa orang dewasa pada pura-pura jadi tokoh kartun?  Anehnya, tetap ramai mengajak berfoto bareng.

Tidak ada habisnya diajak foto bareng, terutama kalau kostumnya keren

Yang saya ingat, dalam sejarahnya budaya cosplayer di Indonesia makin populer karena banyaknya perlombaan dan tingginya animo dari pelaku-pelaku bisnis yang berhubungan. Sebab mendatangkan para cosplayer niscaya membuat sebuah area jadi  “hidup” dan “menarik”.

Ternyata ada, lho, petugas “Costume First Aid”. Jadi kalau kostum kamu robek, diberikan jasa jahit gratis!

Sayangnya, para cosplayer tidak jarang mengalami perlakuan kurang menyenangkan, mulai dari stigma di masyarakat, body shaming, dsb. Padahal kalau kita lihat sisi positif, mereka para cosplayer biasanya adalah anak muda kreatif sampai begadang demi menyiapkan kostum mereka sendiri, lho. Ya. Mungkin ke depannya para anak muda ini perlu melirik karir di dunia fesyen, seperti spesialis pembuatan kostum untuk dunia film.  Apalagi kalau bisa menciptakan kostum yang lebih berciri khas budaya Indonesia, ya!

Stand yang menjadi incaran perut lapar saya adalah…makanan. Ternyata harus berjalan ala lempar jumroh lagi ke bagian lain. Ya, sudah terlanjur nyemplung apa boleh buat. Selama perjalanan menuju makanan, saya melihat Dashi, yang rencananya akan jadi acara sore itu.

Kiri : Dashi yang akan digunakan. Kanan : seorang ibu menyiapkan kostum anaknya  

Akhirnya saya berhasil mencapai wilayah makanan.  YES! Banyak jajanan khas Jepang dari model es serut, taiyaki, takoyaki, okonomiyaki, sampai ringo ame (apel yang dilumuri  permen gula). Di Ennichisai 2019 ini saya sadar, ternyata bukan hanya satu stand yang menjual makanan sejenis. Tapi banyaaak.  Ya. Ibarat penjual soto, yang jualannya setipe banyak, ada soto kumis A, soto kumis B, dan C.

APA? PILIH STAND MAKANAN YANG PALING FAVORIT?

Penginnya, sih gitu. Tapi saking padatnya manusia mau jalan saja sudah bakal kebawa kemana-mana. Jadi lupakan soal memilih.  Sulit membayangkan? OK.  Ini dia..

Foto ini saya ambil dari bagian belakang stand, alias dapur. Coba lihat backgroundnya.  No, itu bukan wallpaper! Itu adalah para pengantri -plus pengunjung yang tengah berjalan lurus memadati lapangan. Perhatikan, nggak ada ruang kosong sama sekali ‘kan? Kebayang nggak kalau saat itu tiba-tiba ada bunyi letusan pistol? Whiiy…

Jajanannya sendiri memang lucu-lucu bentuknya. Kawaii kata orang Jepang. Kita mulai dengan es serut.

Penampakan para es serut ala-ala Jepang (dan penikmatnya)

Nama eskrimnya masih misteri bagi saya. Ada yang tahu?

Selanjutnya jajanan yang jadi ciri khas penyelenggaraan acara Jepang :

“Ringo Ame”, apel dilapisi permen. Bahkan batita saja doyan…

Rasa permen apel ini, seperti makan gulali saja karena rasa manisnya. Permennya sendiri  bisa jatuh meleleh lengket dan merepotkan banyak orang bila setelah dimakan tidak dimasukkan kedalam kulkas.

Jajanan populer lain adalah :

Takoyaki dan Okonomiyaki. Karena kalian ngantri tidak berasa…

Ada tips memfoto human interest dalam kondisi lautan manusia seperti cendol?

    • Saat hadir di sebuah acara tentukan apakah kamu ingin memfoto suasana atau lebih banyak potrait. Itu akan menentukan jenis lensa yang akan dibawa. Karena percayalah, pren…dalam kondisi lautan manusia jangan andalkan ganti lensa. Atau bawalah lensa zoom agar pilihan lebih luas.
    • Karena seolah tiada jarak diantara kita, maka siapkan selalu lensa wide (bila menggunakan kamera) atau smartphone, yang fitur wide-nya sudah tersedia. Ini juga berlaku bagi kamu yang lebih condong ingin mengabadikan suasana.
  • Bila kamu termasuk diantara mereka yang tidak mau pusing berdesakan atau saling transfer keringat, coba bangun lebih pagi untuk hadir. Pelajari spot-spot strategis, kemudian jajahlah  tempatkan diri disana . Selanjutnya gunakan lensa tele sebagai handalan.  Saya melihat banyak fotografer sudah stand by di beberapa posisi dengan lensa-lensa super panjang.

Bagaimana kesan mengikuti acara Jepang setelah berapa lama mager?

Yaaa…..lumayan seru. Penyelenggara sudah bekerja keras,  cuma, ya  kepadatan manusiannya itu, sulit dikontrol.  Kepinginnya kita enggak ngalamin lagi, hahahaha.  Apakah itu sebab Ennichishai 2020 nanti akan diselenggarakan bukan di wilayah Blok M?  Mungkin karena alasan keterbatasan tempat dan pengunjung yang sudah kelewat banyak.

Menurut saya,  bila memang mau mengenalkan budaya,  perlu ada pemisahan antara kebudayaan klasik dan kebudayaan anak muda (sub kultur). Stand penjualan juga akan lebih mudah bila di sesuaikan dengan kelompok-kelompok di atas.

Sederhananya bila bicara kebudayaan, sebaiknya tidak tercampur aduk dengan  unsur kapitalis (industri dan perdagangan). Image kebudayaan klasik lebih membutuhkan citra yang kalem dan rapi. Berbeda dengan industri dan perdagangan yang sifatnya lebih dinamik karena bertujuan akhir bagaimana mendapatkan pasar.

Semoga pihak penyelenggara di masa yang akan datang, bisa membenahi hal-hal yang dirasa kurang, sehingga kesan yang tertinggal bagi pengunjung pemula tentang budaya Jepang akan menjadi jauh lebih baik, ya.

====

Bagaimana denganmu, apakah pernah menghadiri event kebudayaan sejenis?

4 thoughts on “Ennichisai 2019 : Sebuah Kilas Balik

  1. Belum pernah sekalipun datang acara ennichisai, padahal ngakunya suka jejepangan, tapi apa daya udah terlalu mager untuk ikut berdesakan dengan banyak orang 😅

  2. aku pernah diajak anakku yang suak sekali dengan segala sesuatu tentang jepang termasuk budayanya

Leave a Reply