Kecewa Ikut Lomba Fotografi?

Kamu pernah ikut lomba fotografi di Indonesia?

Lomba fotografi di negeri ini memang amat marak. Setidaknya dibanding beberapa tahun sebelumnya. Rasanya hampir semua tipe brand pernah mengadakan lomba fotografi.

Banyak keuntungan menyelenggarakan lomba fotografi, selain promosi gratis via media sosial, mengenalkan produk, dsb.

Dan diatas semua, bisa mendapat foto terbaik. Saya tidak tahu apakah biaya yang dikeluerkan akan sama dengan membayar fotografer profesional. Yang jelas unsur promosi massal jadi tambahan nilai bagi penyelenggara.

Para juri umumnya profesional yang sudah punya nama. Cara menyeleksi foto memanfaatkan teknologi sehingga bisa mensortir dengan cepat. Kebayang kan kalau lima ribu peserta dinilai secara manual? Pengumumannya bisa-bisa tahun depan!

Balada Peserta Yang Kecewa

Sayangnya beredar juga cerita ketidakpuasan. Saat itu diungkapkan sebagai kritik, biasanya ada bisik-bisik,

“Ah, dia kecewa karena nggak menang.”

“Biasa…barisan sakit hati…”

Paling aman kalau kritik memang disertai bukti-bukti. Bukan menyebarkan ke kanal media sosial tanpa dasar jelas, yang bisa kena UU ITE. Balik lagi ke tujuan protes apa, ingin agar terjadi perbaikan ke depan atau ingin mempermalukan?

Oya, kalau ada protes jumlahnya masif sebelum sebuah lomba selesai, sering lebih genuine, karena ada hal-hal yang nggak beres.

Psikologi Orang Kecewa

Tentu semua orang kepengin menang, dong. Perasaan kecewa pasti hadir. Itu manusiawi banget. Tinggal bagaimana seseorang bereaksi terhadap rasa kecewa itu.

Ada yang merasa kecewa tapi woles saja.

Ada yang sampai mencak-mencak ke kiri-kanan.

Makin parah bila jalan kenangan proses menuju kalah itu sarat berbagai peristiwa yang bikin dongkol.

Semakin banyak peserta lomba, penyelenggaraannya harus semakin sempurna, karena peluang menang semakin kecil.

Seperti itu kira-kira hukumnya.

Kebayang, nggak, saat ikut lomba foto tiba-tiba websitenya down jadi harus terus dipantengin 24 jam, di jalanan kena macet sepanjang ular naga panjangnya, tiba-tiba diusir satpam di lokasi karena panitia nggak kasih tahu ada lomba, dsb. Sudah begitu, kalah pula. Emosi jelas sudah ikutan main, deh. Kalau sudah emosi main, apapun bisa terjadi. Semua bisa ikut terbakar…

PR besar (dan tidak mudah) bagi panitia sebuah lomba foto adalah bagaimana mengantisipasi perasaan kecewa (sejumlah besar) peserta yang kalah, memperkecil peluang mereka untuk protes. Agar ajang promosi yang seharusnya positif tidak menjadi senjata makan tuan. Ini sebetulnya umum berlaku untuk semua lomba. Bukan cuma lomba foto saja.

Bila dari awal peserta sudah merasa nyaman dan puas dengan prosedur yang ada, apalagi kalau dikenyangkan dengan makanan! Pasti nggak nyesek-nyesek banget hati ini saat ngeliat orang lain yang naik ke panggung. Pepatah ini benar juga, lho, urusan perut–>dekat dengan emosi. Hahaha…

Kalau rasanya mustahil, perlu mempertimbangkan pembatasan jumlah peserta- entah lewat biaya pendaftaran, kuota peserta, tenggat waktu, sampai berbagai prasyarat tertentu.

Saya sadar itu pertentangan dua kepentingan. Kepentingan atas event-nya sendiri, yang sifatnya memang kompetitif (lomba). Dan kepentingan untuk promosi sebanyak-banyaknya agar mendapat yang terbaik dari semua. Artinya jumlah peserta yang tidak terbatas.

Bagaimana agar terjadi pernikahan yang baik antara kedua kepentingan, bisa membuktikan kualitas penyelenggara lomba.

Tips Woles Ikut Lomba Fotografi

Ada beberapa tips :

1. Lihat Hal-hal Positif Ikut Sebuah Lomba Foto

Selama perlombaan, bisa belajar dari cara peserta lomba “mempersiapkan senjata”. Terutama yang senior, ya. Setelah lomba usai, dengan melihat karya yang lain, kita bisa meneliti kemajuan sendiri,

“Oh, saya kurang disini, hm, yang begini kayaknya belum pernah dicoba,deh. Argh, mestinya dari sudut sana.”

Selain itu ikut lomba foto berarti bisa menambah portofolio karya.

Bila sejak awal kamu tidak bisa melihat satupun hal positif saat akan mengikuti sebuah lomba foto, mending lansung : get out.

2. Berharap Menang, Persiapkan Diri Bila Terjadi Sebaliknya

Mirip pemain sepak bola. Kalau kalah masa wasitnya diuber-uber? Seringkali bukan pengalaman lombanya saja yang penting, tapi bagaimana melatih sikap kita saat menghadapi kekalahan.

Hindari terlalu baper dengan karya sendiri, karya kalah bukan berarti harga diri ikut jelek.

3. Ajang Saling Kenal dan Memperluas Pergaulan

Kadang-kadang kita ketemunya dia lagi-dia lagi di sebuah lomba. Awalnya saingan lama-lama tukeran no HP, jadi temenan deh (terutama kalau sama-sama kalah hahaha). Biasanya dibuat grup-grup WA jelang lomba. Setelah selesai bisa ditinggalkan atau dilanjutkan. Biasanya ada sharing-sharing bermanfaat di grup-grup WA dan ilmu-ilmu baru dari para senior.

Bagi kamu yang jomblo, lomba foto juga kesempatan untuk dapat gebetan yang sehobi (!)

4. Mencari Kesempatan dalam Kesempitan

Sudah bukan hal baru kalau lokasi lomba biasanya cukup menarik. Dan untuk beberapa lokasi, tidak bisa memfoto sebebasnya di hari-hari biasa.

Nah, kita bisa memanfaatkan momen juga, selain ikut lombanya, juga bisa menambah portofolio karya, atau sekedar foto-foto bersama, entah dengan gebetan, orang terdekat, selfie-selfie, dll. I mean… kapan lagi? Tentu saja kalau hanya peserta yang boleh masuk, kamu harus ikut aturan juga.

5. Tidak Menang? Banyak cara untuk memanfaatkan karyamu.

Kamu bisa gunakan fotomu untuk dipajang di rumah sampai dijual secara offline atau online. Di dunia maya sudah bertebaran tempat-tempat yang menerima stok foto, seperti shutterstock, 123fr.com, alamy.com, istockphoto.com, etsy.com, dsb.

Atau kalau blogger seperti saya, foto-foto bisa dimanfaatkan buat tulisan hehehe..

Models : Henny, Siwi, Salma, dan Dwi Nathan. Semua foto dari dokumentasi pribadi.

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: