Kenangan Menyaksikan Langsung Asian Games 2018 (1)

Kenangan Menyaksikan Langsung Asian Games 2018 (1)

Asian Games 2018 sudah berakhir. Sedih? Sesuatu yang dimulai tentu ada waktunya selesai, bukan?

Saat semua sudah berakhir, kita semua bisa mengingatnya sebagai sebuah momen yang  seru dan membanggakan, berkat prestasi atlit-atlit Indonesia yang telah bekerja keras meraih medali di arena.

Asian Games 2018 juga memberikan kenangan tersendiri bagiku, karena memiliki kesempatan untuk menyaksikan suasananya secara langsung.

Sebagai warga ibukota tentu ingin menyaksikan langsung suasana di lapangan.  Ok di depan TV memang lebih nyaman dan aman, tetap sensasinya akan beda. Setidaknya ada niatan menunjukkan dukungan langsung, minimal pada satu atlet Indonesia! *ngarep*

Kalau nggak sekarang, ya harus nunggu sekitar 30-40 tahun lagi ketika Indonesia dapat giliran kembali jadi tuan rumah. Keburu jadi tua renta, kakakkk…..
Tapi kendalanya ya, itu…waktu dan tiket yang cepat ludes dan harus mengakali mencari waktu di kesibukan sehari-hari.
Akhirnya jelang weekend aku memaksakan merencanakan menonton perhelatan akbar itu sampai masuk venue. Yang satu tidak direncanakan dan yang kedua terencana.
 
H-2 Menjelang Penutupan Asian Games 2018 
 
1. Festival 
 
Jalanan di depan Hotel Atlit
Aku sampai di gerbang 3 dan 4 Gelora Bung Karno (GBK). Jalanan yang menuju ke arah Sudirman ditutup sehingga orang bisa berjalan di jalanan sepi. Gerbang yang di buka pagi itu hanya satu, yaitu gerbang 5.

Kehabisan tiket online? Beli saja di Ticket Box pagi-pagi.
Tiket box sepi dan terlihat masih ada beberapa pertandingan tersedia tiket. Aku putuskan untuk membeli tiket festival seharga : Rp.10.000 saja! Tiket tersebut banyak ditawarkan oleh panitia sepanjang jalan, bentuknya berupa gelang kertas.

Di pintu masuk menuju GBK para pengunjung melalui pemeriksaan. Nggak boleh bawa botol minum diatas 500 ml kecuali yang satu sponsor, tidak boleh ada tumbler, rokok, dan korek api.

Baique….

Sudah seperti mau naik pesawat terbang. Tidak boleh bawa botol minum.
Terlihat banyak pengunjung yang datang berkelompok-kelompok, berasal dari berbagai bangsa, usia, dan profesi.
Macam-macam kelompok yang menghadiri GBK (klik untuk memperbesar)

Saat aku masuk suasananya memang tampak tidak begitu ramai. Mungkin karena masih pagi. Eh, nggak ramai, kecuali………..toko suvenir!

 
Jreng..jreng…

Antrian Toko Suvenir panjang melintir ke ujung sana (klik untuk memperbesar)
Kukira di tempat itu ada pertandingan Indonesia vs tim mana gituuu..ternyata itu adalah toko suvenir yang jumlahnya memang hanya semata wayang! Peminat sudah membludak tumpah ruah ala cendol ular naga panjangnya di depan pintu masuk.

Yes. Hidup Asian Games 2018. Hidup belanja...

Nggak tertarik ikut ngantri? Duh, tokonya baru buka jam 10. Kalau antrian tersebut perkloter masuknya, bisa-bisa jam 12-an aku baru sampai di depan pintu masuk toko Sayang waktu, jadi sebelum tergoda, aku melipir ke berbagai penjuru menyaksikan suasana pesta olahraga di sekitar lokasi. Festival ini terbagi menjadi tiga zona senama dengan maskot : Bhin-bhin, Atung, dan Kaka.

Gambar Kaka, Bhin-bhin, dan Atung, trio maskot Asian Games 2018

 

Di ketiga zona tersebut terdapat kios-kios makanan yang belum banyak dibuka. Dengar-dengar, zona ini ramainya ketika sore jelang malam karena banyak ditampilkan atraksi-atraksi juga yang tentunya menghibur warga.

Keluar dari sana, aku menuju ke GBK. Disana melewati api Asian Games 2018 yang tinggi menjulang di depan gerbang.

Api Asian Games 2018 tetap menyala di panas terik
Kesan pertama melihat bangunan dan arsitektur di area seputar GBK ini : keren. Ketimbang dulu yang sekarang ini sudah cantik dengan berbagai make-up.

Nggak heran sepanjang jalan dan mata memandang pengunjung berebut foto-foto diri. Terus terang belum pernah aku melihat sekumpulan manusia yang bersemangat  wefie dan selfie sebanyak saat ini! Bahkan keluarga turis Belanda yang sedang menikmati suasana tidak luput dari sasaran empuk para remaja untuk diminta foto bareng! Mimpi apakah mereka semalam mendadak jadi arteees…..

Berbagai variasi wefie, selfie, dan foto bareng bule.. (klik untuk memperbesar)

Belum habis terperangah, tiba-tiba seseorang menyodorkan kepadaku sebuah smartphone…..minta difotoin! *kirain minta foto bareng atau ngasih gratis huhuhu*

Tentu saja selain para turis dan pengunjung ada pula para pekerja yang terus bekerja menjalankan tugas walau hari bertambah terik.
Para pekerja di sekitar GBK (klik untuk memperbesar)

Usai dari GBK, mendadak ada perubahan rencana, yaitu menuju stadion lain selain GBK dimana sedang ada pertandingan sepeda. Dimana itu? Jakarta International Velodrome (JIV), di Rawamangun, Jakarta Timur.

Sebetulnya pertandingan balap sepeda itu sudah berlangsung sejak pagi. Tapi dapat yang siang juga tidak ada masalah karena pertandingannya sampai sore. Hmm, kira-kira bakal dapat tiket nggak? Karena di tiket online sudah ludes. Nah, ini gambling juga sih, nekad menyebrangi separuh Jakarta hari itu….menuju Rawamangun. Kalau nggak dapat tiket ya sudah legowo saja paling motoin bangunan dan suasananya.

2. Velodrome

Penampakan luar gedung Jakarta International Velodorme
Mungkin karena teringat opening ceremony Asian Games 2018 yang waah, orang-orang jadi terpaku pada patokan bahwa semua pertandingan itu pasti di kompleks GBK. Padahal tidak demikian. Ada yang di Pulo Gadung, Tangerang, Rawamangun, dsb. Salah satu stadion khusus untuk sepeda adalah di Jakarta International Velodrome ini. Arena pertandingan yang sudah bertaraf internasional.

Tiket box terletak di depan stadion, suasananya juga lumayan sepi dan bisa ditebak, tiket masuk pertandingan berikutnya sudah di tangan! Dan aku beruntung karena dalam pertandingan tersebut  tim Indonesia juga akan bertanding melawan para pesepeda Asia lainnya. Wah, kesampaian juga menyaksikan langsung kontingen negara ini berlaga!

Acara akan mulai pukul 13.00. Mari mengantri cantik lagi, saudara-saudara…Sama seperti saat masuk ke festival GBK, di tahap pertama seluruh barang bawaan harus diperiksa dengan X-Ray, tidak ada makanan dan minuman yang boleh dibawa masuk!

Antrian tahap dua menunggu di depan pintu masuk yang sudah dibuka.

Antrian masuk yang teratur ini sempat diwarnai insiden penyerobotan

Dibandingkan antrian menuju toko suvenir di festival GBK, ini cuma seujung kuku jari. Walaupun demikian, kok, yaa, tetap saja ada kasus oknum memotong antrian. Langsung ramai kena bully para pengantri didepannya!  Untung kejadian ini terjadinya di Velodrome, kalau di toko suvenir GBK yang tadi kulihat, nyawa bisa terbang melayang! Gimana nggak, panjangnya sudah sejuta umat, nunggunya dari pagi pula. Plus, tahu sendiri kan ganasnya konsumen kalau rebutan sembako…eh…suvenir..?

Suasana dalam Velodrome saat break makan siang

Bagaimana perasaanku saat pertama kali masuk melihat bagian dalam Velodrome? Langsung terpukau. Keren, bersih, dan rapi sekali arenanya! Jadi serasa ada di stadion di luar negeri, benar-benar luar biasa.

Eh. Ini bukan mimpi kan? Bangun, ayo, bangun! *cubit pipi orang di sebelahku sampai panjang*

Suasana dalam Velodrome saat pertandingan berlangsung

Sedikit informasi tentang sejarahnya, Jakarta International Velodrome berdiri di tanah seluas 9.5 hektar dan bangunan aslinya adalah Rawamangun Velodrome yang di bangun di tahun 1973. Awalnya tempat ini merupakan arena outdoor. Kemudian pemerintah merenovasi dan memugarnya dengan menghabiskan biaya sekitar 40 juta dollar Amerika, menjadi arena bertanding indoor. Desainnya diserahkan kepada Schuermann Architects, termasuk pembuatan trek untuk sepeda sepanjang 250 m.

Hasilnya cukup memuaskan. Organisasi pesepeda bergengsi World Cycling Center atau Union Cycliste Internationale (UCI) sendiri telah mensertifikasi JIV sebagai “class 1”.

Selain berfungsi sebagai gelanggang sepeda, JIV juga bisa digunakan sebagai arena bertanding olahraga lain seperti volleyball, badminton, dan futsal. Bahkan arena ini layak pula dipakai untuk pertunjukan dan konser

Suporter Merah Putih diantara penonton internasional

Aku tidak mengalami kesulitan memilih tempat duduk, karena jumlah penonton masih kalah jauh dengan jumlah bangku yang ada di dalam gedung ini.  Kondisi ruangan sangat nyaman dan bersih, seperti menonton dari kursi kelas satu. Selama beberapa menit aku memiliki waktu untuk mempelajari tata cara pertandingan dan skedul, sembari menyaksikan para atlit manca negara yang mulai mempersiapkan diri.

Jadwal tim Indonesia pada pertandingan balap sepeda trek 31 Agustus 2018 :

13.00 WIB Madison Putri- Final (Ayustina Delia Priatna dan Liontin Evangelina Setiawan)
13.50 WIB Keirin Putra -Babak II (Puguh Admadi dan Terry Yudha Kusuma)
14.02 WIB Sprint Putri – Final
14.08 WIB Madison Putra- Final (Projo Waseso dan Benard Benyamin Van Aert)
14.14 WIB Keirin Putra -Final  

**Untuk penjelasan istilah sepeda trek Madison, Keirin, dan Sprint bisa dilihat disini.

Dimulai dengan pertandingan Madison Putri Final.

Tim Indonesia berusaha mengejar lawan

Saat tim pesepeda Indonesia melewati para penonton, suara sorak sorai menggemuruh, “Indonesiaaa..” Kerasnya nggak kalah dengan suara di pertandingan bulu tangkis!

Menonton pertandingan memang jadi lebih seru bila ada pihak yang dijagokan. Beberapa kali para pembalap berputar mengelilingi arena seruan itu menggema kembali.

Sayang, setelah berjuang keras melawan wakil dari berbagai negara Asia, pasangan Ayustina Delia Priatna dan Liontin Evangelina Setiawan harus puas berada di urutan ke 6. Medali emas di raih oleh pasangan dari Korea yaitu  Youri Kim dan Ahreum Na.

Pesepeda putri pada nomor Madison Putri

Ketika semua pesepeda melesat, apapun metode bertandingnya, keseruan tetaplah sama, yaitu  menyemangati tim Indonesia lagi. Tapi tampaknya lawan kita cukup berat.  Disini Puguh Admadi dan Terry Yudha Kusuma ada di posisi 10.  Medali emas jatuh ke tangan pesepeda asal Thailand yaitu Jai Angsuthasawit.

Pertandingan selanjutnya adalah Keirin Putra. Tim Indonesia juga berlaga. Baru pertama kali aku mengenal sistem bertanding ini. Agak berbeda dengan Madison, yang lebih mudah dipahami, awalnya aku sedikit bingung dengan cara Keirin, bagaimana, sih  mainnya?

Pertandingan pada nomot Madison Putra

Pada nomor Madison Putra, Projo Waseso dan Benard Benyamin Van Aert hanya bisa melakukan finis di peringkat ke 7.  Peraih medali emas adalah pasangan dari Hong Kong yaitu King Iok Cheung dan Chun Wing Leung. Di setiap pertandingan, aku tidak selalu berada di posisi yang sama, lebih sering berpindah-pindah dari wilayah A, B, ke C untuk mendapatkan angle yang berbeda. Semua memungkinkan karena arena masih cukup lapang untuk menemukan spot baru.

Persiapan nomor Madison Putri, pengendara Derny, menunggu letusan start,  atlit sepeda putra Indonesia berlaga, peraih medali emas dari Korea (klik untuk memperbesar)

Kesan sepanjang pertandingan….nah, terus terang ini adalah pertandingan balap sepeda pertama yang aku tonton langsung (malu-maluin, ya kemana aja). Walaupun Indonesia belum berhasil mendapatkan medali, untuk ke depan dengan fasilitas internasional semacam ini, semoga bisa menjadi penyemangat agar prestasi semakin meningkat.

Aku juga mendapat banyak informasi baru tentang jenis pertandingan yang berlangsung. Yang paling menarik, dan unik menurutku adalah nomor Keirin.  Kalau dilihat dari jauh tampak imut banget melihat bagaimana sepeda-sepeda balap, di awal pertandingan, di pandu oleh sebuah sepeda khusus (biasa disebut Derny).

Pertandingan berikutnya berlangsung pukul 16.00 WIB. Walaupun aku tidak mengikuti sampai selesai, tapi rasanya sudah cukup puas. Harus menghemat tenaga karena besok di hari Sabtu masih ada pertandingan final lain menanti dan penasaran bagaimana suasana di festival GBK saat sore hari?

Ok. Nantikan cerita selanjutnya ya…

Sumber : wikipedia.com, galamedianews.com, tribunnews.com

Semua foto diambil dari dokumentasi pribadi

 

Back to Top
error: Content is protected !!
%d bloggers like this:
Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On Instagram