Memfoto Benda Mati vs Makhluk Hidup

Memfoto Benda Mati vs Makhluk Hidup

Beberapa kenalan yang saya tahu, ada yang memilih untuk menekuni memfoto obyek benda mati (inanimate objects).

Di dunia maya, saya menemukan grup pencinta fotografi di IG, yang mengkhususkan diri di hal yang sama, Mereka merasa nyaman, karena berhubungan dengan keyakinan mayoritas dari mereka.

Bagi pembaca yang belum memahami, salah satu penafsiran seputar fotografi dalam agama Islam adalah menghindari memfoto makhluk hidup atau animate objects.

Tapi banyak juga ulama yang berpendapat bahwa memfoto makhluk hidup yang bersifat dokumentasi dan pemberitaan seperti human interest (syarat dan ketentuan berlaku) boleh. Genre foto lain, yang berhubungan dengan alam, seperti wildlife, dan nature photography, juga diperbolehkan.

Kita ambil pendapat yang mayoritas ulama berkesimpulan sama saja, yaitu tidak memfoto obyek yang lebih banyak menimbulkan mudharat, ketimbang manfaat. Seperti gambar yang menimbulkan syahwat dan hawa nafsu.

Untuk menjauhi hal-hal tersebut beberapa pencinta fotografi tersebut memilih genre seperti landscape, arsitektur, still life, beberapa lari ke animal, bisa spesifik ke bird, macro, dsb. Kalaupun menyangkut manusia seperti human interest dan potrait terbatas pada yang berbusana sopan, minimal standar keumuman.

—–

Sekarang giliran saya menceritakan pengalaman sendiri dan teman yang lain. Yaitu seputar memfoto obyek benda mati dan obyek makhluk hidup.

Saat belajar tentang fotografi di sebuah kelas, saya memfoto dengan menggunakan obyek, seorang model. Sebagai perkenalan terhadap peralatan yang melibatkan lighting serta ilmu jatuhnya cahaya.

Seperti yang umum diketahui, para model perempuan untuk acara foto itu busananya rata-rata seringkali..ehm…minim

Baiklah. Saya mencoba memahami pemilihan busana itu dari sudut pandang pebisnis foto atau penyelenggara kelas. Memfoto model, apalagi yang seksi, itu adalah daya tarik besar bagi kaum adam (dan beberapa kaum hawa). Saat praktek, tentu semangat pesertanya jadi lebih tinggi. Lalu bisa jadi ajang promosi dari mulut ke mulut.

Sebagai perempuan, untungnya, saya masih bisa fokus ke materi. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana dengan peserta laki-laki, kira-kira mereka bisa fokus atau tidak. Karena kadang ada yang ketika ditanya dapatnya pelajaran hari ini apa saja, tiba-tiba suka jadi amnesia. Hahaha.

Di lapangan, seorang model harus siap dengan berbagai resiko pekerjaan. Seperti suit-suitan iseng, atau mereka yang minta foto bareng *apa hubungannya dengan materi coba*.

Kasus terparah, kala terjadi wardrobe malfunction. Yaitu saat bagian pribadi si model tanpa sengaja terekspos karena bajunya gagal berfungsi dengan semestinya.

Kaum adam sontak….@_@

Kasihan modelnya. Siapa jamin foto itu akan di delete oleh masing-masing orang yang tadi memfoto ‘kan, ya?

Saya berhasil melalui semuanya. Namun diantara semua pelajaran,  materi lighting pada obyek benda mati dan makanan yang dilangsungkan di kelas tersebut adalah favorit saya. Kenapa? Ya, mereka adalah obyek yang mudah didapati dan pasti lebih terpakai dalam praktek sehari-hari.

Ada satu hal menarik yang saya perhatikan.

Ketika mencoba membandingkan karya foto saya yang ada model manusia dan benda mati. yang terakhir ini tetap saja kalah apresiasi dan likesnya dengan foto yang menggunakan model (meski itu saya ambil secara asal-asalan). Still life kalah telak bila disandingkan dengan human interest, macro, atau animal photography.

Kesimpulan, daya tarik magis dari makhluk hidup itu ternyata sangat besar dalam sebuah foto.

Saat mata dan mata saling bertemu.

Mungkin seperti inilah..

Daya tarik akan semakin bertambah besar, saat kita puas karena telah mendapat banyak penghargaan, pujian, dan likes.

Manusia punya kecenderungan suka mengeksplorasi sesuatu sampai habis-habisan. Walau itu tidak masuk akal. Kepuasan yang dihasilkan setelah semua itu selesai, akan menimbulkan hal baru lain : kebutuhan akan tantangan yang lebih besar, sulit, dan beresiko.

Sebagai contoh, seorang fotografer perempuan yang sudah kampiun memfoto banyak hal, tertarik memfoto model perempuan yang tidak pakai busana.

{{Wait..what??}}

Karena suka?

Nggak, ternyata lebih banyak karena faktor penasaran. Sebab itu satu-satunya yang belum pernah dicoba! Dan saya bisa membayangkan akan ada suara-suara berbunyi di kepala.

{{Apakah saya bisa keren dalam hal itu? Bisa dijual? Dan kira-kira berapa, ya dapat likesnya…}}

Apalagi fotografer pria, sudah bukan rahasia lagi, punya banyak jalan untuk memfoto nudis (bila mau).  Hehehe…

Jadi kira-kira seperti itu alurnya, pelan tapi pasti, keinginan coba-coba membuat seseorang akan semakin berani mengambil resiko.

Akhirnya ada efek domino, yaitu eksploitasi. Tidak ada hal yang lebih berbahaya daripada eksploitasi manusia kepada sesama makhluk hidup lain. Atas nama likes, uang, ketenaran, dan sebagainya. Dan itu yang banyak terjadi sekarang.

Sebagai contoh, ada model yang harus rela bertaburan bedak dengan resiko terhirup ke paru-paru agar para pemfoto mendapatkan hasil yang mencengangkan. Model lain sampai berjalan mepet-mepet berpose di pinggir jurang.

Ya, ok, agak mirip para pelaku selfie sih, kalau selfier kan cuma membahayakan dirinya sendiri bukan orang lain. Hahaha.

Para binatang, tidak luput dari eksploitasi manusia untuk mendapatkan gambar yang dimaui. Apalagi bila tidak ada aturan yang jelas. Bisa sampai banyak yang mati (misal, terjadi pada fotografi makro). Mereka kan nggak mungkin protes, ya.

Baca : Tentang Fotografi Makro

Memfoto makhluk hidup untuk tujuan dokumentasi (semacam human interest, wildlife, dll), menurut saya tidak ada masalah. Apalagi untuk keperluan reportase dan bersifat jurnalistik. Tapi akan jadi masalah bila obyeknya dieksploitasi. Ini termasuk mengeksploitasi diri sendiri, lho, tahu maksud saya, kan? Hihihi…

Memahami perilaku manusia ini, di negara maju, terutama Eropa sudah ada hukum yang mengatur seputar fotografi.

Berarti lebih aman memfoto binatang dong? Ehm..ehm..hati-hati juga kecuali ingin memiliki nasib seperti David Slater vs Naruto.

Artinya tanpa bergabung dengan keyakinan teman saya dan lainnya di atas, nun jauh di sana fotografer sudah mulai malas berhubungan dengan foto makhluk hidup kali,ya, karena untuk mendapat keuntungannya musti super hati-hati dan ribet dulu!

Di Indonesia memang belum seketat itu. But who knows? Suatu saat nanti akan diterapkan. Siap-siap saja. Membiasakan diri dari sekarang.

Bila manusia mengalihkan eksploitasinya kepada benda mati, dampak kerusakan memang lebih kecil. Lebih banyak jatuh ke pelakunya sendiri. Lha, obyeknya kan diapain aja juga diem. Hahaha. Nggak ada yang bela juga.

Paling, ya itu, kantong fotografernya jebol karena kebanyakan beli pernik-pernik penghias atau keseringan jalan-jalan!

Demikianlah dunia yang sudah terbentuk. Kisah diatas cukup sebagai pengingat bagi diri saya sendiri atau siapapun yang terjun ke hobi (atau bidang) ini.

Moral of the story, bila sejak awal keinginan saya untuk memfoto sudah jelas, misalnya mau foto still life, food, atau bahkan wildlife, lebih baik langsung to the point belajar genre yang diinginkan (jangan lupa belajar basic dulu, ya). Sekarang sudah banyak bertaburan workshop yang spesifik untuk genre tertentu.

Tidak wajib saya harus jalan berputar-putar dulu, belajar berbagai genre yang tidak perlu, membuat saya terhindar dari berbagai godaan yang menjauhkan dari target semula.

Semoga kita juga tidak memandang sebelah mata pada mereka yang mendedikasikan diri hanya untuk memfoto obyek benda mati. Pada prakteknya justru itu adalah obyek yang paling sulit. Bila seseorang sampai bisa membuatnya bersinar, artinya kemampuan mereka sudah terasah. Dan bila hal itu membuat nyaman kenapa tidak?

Bagaimana menurutmu? Apakah kamu punya pengalaman tersendiri berhubungan dengan hal diatas?

Gambar : giphy.com dan dokumentasi pribadi

Back to Top
error: Content is protected !!
%d bloggers like this:
Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On Instagram