Pehobi Fotografi vs Fotografer Profesional

Jaman sekarang teknologi sudah semakin canggih. Kegiatan foto-memfoto bak kita bernafas saja di keseharian, karena sekarang kamera bersatu fungsinya dengan handphone. Bandingkan dengan jaman kamera film, dimana kita harus memiliki kamera dulu, serta harus berhati-hati dalam memfoto. Salah perhitungan sedikit, hasilnya akan jelek, rol filmnya jadi mubazir. Tidak bisa di delete dan di replace.

Sekarang? Satu pose selfie saja bisa sampai puluhan foto! Kadang malah yang gagal-gagal itu juga tidak dihapus, kan? *Hayoo-hayoo, ngaku* Hahaha…

Imbas dari semua kemajuan itu, pekerjaan fotografer sering dianggap “mudah” oleh beberapa orang yang tidak mau belum paham. Ah, mereka’kan tinggal jepret-jepret sana-sini, cetak-kasih bingkai. Selesai.

Padahal printilan lain yang kasat mata banyak. Seperti biaya yang dikeluarkan para profesional untuk belajar di sekolah yang spesifik (atau selama proses belajar sendiri). Biaya transpor, modal membeli peralatan, membayar asisten di lapangan, dsb.

Khusus untuk peralatan fotografer, perlu juga memasukkan perhitungan depresiasi dari nilai peralatan fotografi. Karena sebuah barang setiap pemakaian dari tahun ke tahun nilainya semakin berkurang

Ini adalah screenshot percakapan seorang fotografer profesional dengan seorang klien, yang dia sempat bagi di linimasanya di twitter.

Screenshot ini jadi bahan kegemasan semua follower, yaitu para fotografer profesional. Karena itu adalah penawaran tidak berperikemanusiaanfotografi-an!

Persaingan makin ketat, semakin banyak juga segmen yang diincar oleh produsen kamera, menempatkan ruang bagi…

Para Pehobi Fotografi

Ciri-ciri para hobbyist atau pehobi fotografi : mereka memiliki pekerjaan di luar bidang fotografi/ tidak berniat mencari nafkah dari bidang ini. Memfoto karena, ya, karena memang hobi saja. Beberapa dari mereka itu… sangat berbakat! Sampai karya-karyanya bikin melongo, bahkan bisa dibilang menyaingi mereka yang profesional. Mereka umumnya juga merupakan pangsa pasar segar untuk penyelenggara kelas-kelas belajar, workshop fotografi, hunting bareng serta lomba-lomba foto yang umumnya diadakan oleh fotografer profesional.

Setelah mahir serta memiliki cukup rasa percaya diri, para pehobi ini ada yang memberanikan diri menjadi menerima keuntungan dari hobi memfoto. Sebabnya bisa karena peer pressure atau memang ada keinginan sendiri. Mereka menetapkan harga jasa dengan memperhitungkan profit, seperti umumnya profesional. Sebagian lain ada yang memilih bermain di harga di bawah pasar, dengan alasan sekedar mencari portofolio dan menjalin relasi dulu. Sisanya sudah cukup puas dibayar tiket dan akomodasi saja saat diminta meliput event!  Karena niatnya cuma kepengin ikut jalan-jalan! Lol.

Namun ada lagi pehobi yang pilih mempertahankan kegiatan ini tetap jadi hobi saja. Karena  memang hanya untuk senang-senang. Hobi yang menjadi pekerjaan,  bagi mereka tidak akan memiliki unsur kesenangan lagi. Bila tetap menjadi hobi, niscaya mereka tidak perlu merasakan tekanan untuk bersaing dengan sesama, bisa menjalin pertemanan, dan yang terpenting merasa happy di setiap kesempatan memfoto!

Konflik Kepentingan Antara Pehobi Fotografi dan Fotografer Profesional

Yang jadi polemik adalah saat pehobi fotografi  yang berbakat- dengan banyak follower pula – sering menerima pekerjaan seperti meliput event, memfoto profil, secara cuma-cuma! Ya, paling-paling bayar biaya traspor dan akomodasi. Namun sisanya mereka seperti tanpa beban melakukan segala pekerjaan itu.

Bahkan saking tanpa bebannya, di media sosial ada yang fotonya nggak dikasih watermark sama sekali! Kontras dengan para profesional dan beberapa amatir, yang menyiapkan watermark dengan hati-hati,  memperhitungkan letaknya apakah sesuai dengan komposisi foto atau (kalau sudah nggak mau pusing) sekalian saja di taruh ditengah-tengah gambarnya biar aman nggak diembat orang!

Kalau ditanya kenapa bisa santai begitu, si pehobi fotografi berbakat hanya berkata pendek,

Gambar : giphy.com

“Ya, gue ngelakuin ini karena memang membuat gue senang, kok. “

Juga karena bisa membuat orang lain senang, demikian motonya. Apalagi di komunitas tempatnya bekerja karyanya sudah cukup terkenal dan dia seakan punya “julukan” yang membuatnya merasa unik,

“Si A dari divisi X yang suka moto itu lho…”

Kalau beruntung mereka akan populer di medsos, membuatnya didapuk jadi influencer oleh brand terkenal, tanpa harus jadi profesional.

Kondisi seperti ini tampak seperti ironi bagi mereka yang memang mengandalkan hidupnya di bidang ini.

Ya, coba kalian bayangkan saja. Jadi misalnya C mau nyari fotografer di hadapannya ada 2 pilihan :

  1. B yang profesional. Hasil memuaskan dengan banyak pilihan produk menarik, tapi biayanya mehong….atau..
  2. A, si teman, yang pehobi. Hasil oklah, nggak banyak pilihan produk, tapi biayanya  itu…nyaris gratis!

Kira-kira mana yang dipilih oleh C – si konsumen…?

Mereka, para pehobi berbakat, seringkali tidak sadar bahwa ada pasaran fotografer serius yang terancam runtuh, karena niat baik mereka yang tulus ikhlas dalam membantu orang sambil menikmati kegemarannya itu.

Ada teman saya, fotografer profesional yang sampai bilang ke temannya, pehobi foto yang berbakat.

“Kamu kalau moto-moto event janganlah gratisan, walaupun memang hobi. Atau kalau moto-moto jangan untuk orang lain kalau hobi, tapi untuk diri sendiri.”

Dibayar Pakai Ucapan “Terima Kasih”

Bila pehobi fotografi biasanya cukup puas dengan bayaran rasa persahabatan, penghargaan, dan terima kasih, tentu tidak demikian halnya dengan para profesional.

Sayangnya banyak yang menganggap pekerjaan ini bisa “kompromi”, selama ada hubungan kedekatan. Misal, sahabat, teman, rekan kerja, saudara, atau kenalan.

Padahal yang namanya bisnis kalau semuanya dibikin gratis, ya kapan balik modalnya? Bahkan orang jualan cendol saja bakal mikir-mikir kalau sekeluarga minta dagangannya dengan cuma-cuma!

Ya, mau bagaimana lagi. Karena masih ada, sih, mereka yang  kurang menghargai profesi ini. Bahkan cenderung menganggap remeh.

Saya sendiri pernah menjadi saksi bagaimana mengenaskannya anggapan umum tentang pekerjaan fotografer!

Saat itu saya tengah membantu sebuah event gratisan, yang inginnya pakai jasa fotografer “gratis” juga.  Para penyelenggara  kebetulan mengincar kenalan mereka yang penting bisa moto, hobi moto, lebih untung kalau dapat yang profesional.

Walau di awal saya berusaha memberikan gambaran sebuah event foto perlu tim dengan tugas beragam seperti stylist, penanggung jawab lapangan, yang survey, dsb. Jawaban salah seorang kurang lebih begini,

“Sudahlah. Serahkan saja semua ke fotografernya. Biar fotografernya yang ribet, kita nggak usah ribet. Xixixixi.”

Eh? Baiklah…

But…

Gambar : giphy.com

Jadi fotografer gratisan bakal melakukan hal-hal ini :

  • Memfoto (dengan kamera dan lensa, yang jelas belinya nggak pakai daun)
  • Mengarahkan model (yang mana modelnya sendiri jumlahnya banyak dan sulit diatur)
  • Survey tempat (butuh waktu sendiri)
  • Editing (kalau pelakunya siang kerja, bisa sampai begadang ini)
  • Filing dan serahkan sesuai batas waktu

Untuk menambah semuanya menjadi lebih rumit, penyelenggara berusaha merekrut sebanyak-banyaknya mereka yang dianggap bisa memfoto. Berharap di akhir acara mereka punya banyak pilihan (terutama bila fotografer gratisan yang mereka pilih hasil fotonya nggak bagus).  Hitung-hitungannya begini : semakin banyak yang foto, semakin besar probablilitas dapat foto yang OK.

Dan itu akan membawa kita ke point berikutnya…

  • Sudah kebagian tugas memfoto, mengarahkan model, mencari tempat, dan habis waktu untuk    mengedit,  itu belum  tentu juga fotonya yang kepilih! >> jadi mirip lomba foto, ya, tapi kalau lomba foto kan masih ada kemungkinan dapat hadiah. Wkwkwk..

Saya, kok, jadi merasa iba pada fotografernya, apalagi kalau dia profesional. Harusnya ‘kan malah dibayar?

Yang sering terjadi, kebanyakan dari mereka hanya dibayar dengan ucapan terima kasih.

Itu saja belum tentu juga dapat terima kasih dari semua orang.  Karena dianggap jepret-jepret itu enteng, nggak ada bedanya sama moto pakai hape!  Tidak dijamin juga karya mereka tidak berakhir di recycle bin penyelenggara atau….. diakui sebagai karya orang lain (karena memfotonya keroyokan).

Bagaimana akhir cerita diatas? Ya, satu pehobi fotografi mundur teratur.  Penyelenggara di lapangan harus mengerjakan semuanya dengan tenaga-tenaga dadakan yang ada. Hasilnya bisa ditebaklah. Apalagi saat para model jatuh menjadi bad mood, imajinasi yang diharapkan jadi jauh bayangan. Bahkan ada yang harus di re-take di lain hari!

Entah apakah kejadian itu pada akhirnya akan membuka mata beberapa dari mereka, tentang bagaimana sulitnya pekerjaan seorang fotografer, mengapa fotografer banyak yang di bayar mahal dalam event foto- yang perlu persiapan yang tidak sebentar.

Saat membahas proyek gratisan, inilah suara hati beberapa kenalan fotografer profesional :

Apa Yang Idealnya Perlu Dilakukan?

Sepertinya perlu kebijakan yang lebih kuat untuk memproteksi profesi fotografer- yang diterbitkan pemerintah dan DPR. Biasanya dimulai dengan mengoptimalkan asosiasi fotografer untuk mendorong adanya suatu kebijakan atau peraturan yang mengatur profesi fotografer, sebagaimana profesi-profesi lain.

Karena hampir semua profesi ada aturannya. Misalkan advokat, dokter, auditor, kontraktor, kurator, perawat, notaris, diatur secara khusus dalam peraturan perundang-undangan. Bahkan tukang parkir sekalipun diatur dalam Perda (supaya tidak tergeser oleh preman-preman)!

Profesi-profesi yang lekat dengan audio visual digabung dalam satu undang-undang yang mengatur mengenai tata cara, sertifikasi,  hak, kewajiban, dan perlindungan. Sebagaimana di negara lain seperti Amerika ada pasal-pasal yang mengatur itu, sehingga eksistensinya menjadi kuat.

Bayangkan, disana orang mancing saja ada peraturannya sehingga orang-orang yang tidak punya sertifikasi (ijin) memancing, tidak diperkenankan mancing sembarangan!

Jadi Harus Bagaimana?

Seorang fotografi guru sering memperingatkan, bahwa siapapun yang ingin terjun di bidang ini, agar  selalu “berhati-hati” bila memberi jasa foto gratis. Biasanya orang akan meminta gratis untuk seterusnya.

Saat sebuah pintu terbuka, ia akan sulit untuk menutup lagi.

Bila suatu hari kita menolak permintaan gratis, belum tentu mereka- yang biasa dimanjakan dengan kemudahan mendapat hasil foto itu-bisa menerima begitu saja.  Akhirnya suka jatuh ngambek atau marahan. Sehingga kegemaran memfoto bukannya malah menambah teman!

Banyaaaak sekali sebetulnya, orang yang ingin memanfaatkan kemampuan seorang fotografer, entah itu profesional atau pehobi.  Keputusan kembali pada pilihan seseorang, apakah kemampuannya mau dimanfaatkan gratis atau tidak. Siapapun  punya standar sendiri-sendiri yang patut dihormati. Bukan karena seberapa tinggi dia menilai dirinya sendiri, atau seberapa besar modal ikhlas yang dipunya. Melainkan apa prioritas utamanya, saat ia memilih untuk memiliki dan memanfaatkan sebuah kamera.

Bagaimana menurutmu?

**Special thanks kepada teman-teman di grup fotografi atas inspirasinya.

10 thoughts on “Pehobi Fotografi vs Fotografer Profesional

  1. Itu yg kasih harga sadis banget dah haha .. bukannya nanya harga ke ke fotografernya malah dia sodorin harga, coba si fotografernya jawab pakai jawaban paten no. 2 – 5 seru kali yaa penasaran reply yg buka harganya 😆 .

    1. Iya itu still yakin abis wkwk..Haha sulit nanti malah rame di belakang jadinya nama fotografernya di black list

  2. Wadawww.. sadis amat 100 ribu buat foto, itu kayak kalau ada yang kirim email, 1 artikel 50 ribu hihi.. Minta ditampol dah.. Harga mahal gak masalah yang penting ada harga ada barang ( menurut aku sih ya ). Waktu masih kerja WO, kalau lagi hari menikah seJakarta, waduh yang namanya bridal2 gitu, kan biasanya suka paketan sama foto video, dan karena banyak klien, jadinya pake foto dan video cabutan, yang mana. levelnya gak sesuai dengan harga.. Suka sedih kalau mikirin pengantinnya..

    1. Nggak jelas memang. Oh begitu, rame sampai pakai cabutan. Harus diteliti memang, ya. Thks infonya…

  3. aku kalau moto ngga pernah dibayar, tapi moto acara kantor sendiri sih , wkwk.. ya cuma hobi aja sih, pernah dapet tawaran buat moto tapi kukasih temen aja yg memang fotografer..

    -Traveler Paruh Waktu

Leave a Reply